Kamis, 22 Aug 2019
radarsurabaya
icon featured
Politik Surabaya

Penghitungan Suara Ulang di Tiga TPS Dapil 4 Buktikan KPU Salah Hitung

13 Agustus 2019, 14: 54: 42 WIB | editor : Wijayanto

HITUNG ULANG: Petugas KPPS melakukan menghitungan surat suara di kantor KPU Surabaya, Jalan Adityawarman, Surabaya, Senin (12/8).

HITUNG ULANG: Petugas KPPS melakukan menghitungan surat suara di kantor KPU Surabaya, Jalan Adityawarman, Surabaya, Senin (12/8). (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Komisi Pemilihan Umum (KPU) Surabaya melakukan penghitungan surat suara ulang (PSSU) pada tiga tempat pemungutan suara (TPS) di Daerah Pemilihan (Dapil) 4 Surabaya di kantor KPU Surabaya, Jalan Adityawarman, Surabaya, Senin (12/8). Kegiatan PSSU ini langsung diawasi komisioner KPU RI dan Bawaslu RI.

Ketiga TPS yang melakukan PSSU adalah TPS 30 dan 31 Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan, serta TPS 50, Kelurahan Simomulyo Baru, Kecamatan Sukomanunggal. PSSU ini merupakan tindak lanjut dari amar putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang menilai telah terjadi kesalahan pencatatan penghitungan suara oleh penyelenggara pemilu di Kota Pahlawan.

Kasus sengketa pemilu yang berujung PSSU ini diajukan Agoeng Prasodjo, caleg DPRD Kota Surabaya dari Partai Golkar. Dalam permohonannya, Agoeng menyatakan terdapat selisih perolehan hasil penghitungan suara di tiga TPS tersebut dengan sesama caleg Partai Golkar, Aan Ainur.

Agoeng mengklaim kehilangan 38 suara dari tiga TPS tersebut. Sesuai penghitungan, Agoeng mestinya mendapat total 4.714 suara. Sementara Aan sebanyak 4.676 suara. Agoeng sendiri hadir saat penghitungan suara ulang, sedangkan Aan tidak tampak.

Pantauan Radar Surabaya di lokasi, PSSU ini dihadiri Ketua Divisi Pengawasan dan Sosialisasi Bawaslu RI Mochammad Affifudin, Ketua KPU RI Arief Budiman, Komisioner KPU RI Ilham Saputra, Ketua KPU Jatim Choirul Anam, dan sejumlah komisioner Bawaslu Jatim.

Sementara itu, caleg Golkar Agoeng Prasodjo berharap agar ke depannya KPU lebih profesional dan teliti. Sehingga kesalahan yang terjadi saat penghitungan suara tidak terulang kembali. “Oke, mungkin bisa dikatakan faktor human error karena ngantuk. Tapi, ke depan jangan sampai terulang karena bisa merugikan orang lain,” katanya.

Agoeng mengatakan, banyak orang yang beranggapan bahwa dirinya bertarung dengan rekan separtainya. “Sekali lagi saya tegaskan, ini kesalahan KPU, yang membuat saya menjadi korban,” katanya.

Meski melihat hal ini sebagai pelanggaran, Agoeng tidak akan membawa kasus ini ke meja hijau. Sebab, Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) sudah mengakui kesalahannya saat di Bawaslu. “Bagi saya, mereka ini sangat gentle sehingga tidak perlu lagi dibawa ke ranah hukum,” jelasnya. (mus/rek)

(sb/mus/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia