Kamis, 12 Dec 2019
radarsurabaya
icon featured
Iso Ae

Di-PHK Istri setelah Gaji Sebulan Habis Semalam

13 Agustus 2019, 01: 10: 59 WIB | editor : Wijayanto

Ilustrasi Iso Ae

Ilustrasi Iso Ae (GRAFIS: FAJAR KRISNA)

Share this      

Mau menikahi anak orang artinya harus mau tanggung jawab. Ngasih makan, ngasih uang bulanan juga. Jangan hanya modal cinta, tapi kalau punya uang dibuat seneng-seneng sendiri.

Ismaul Choiriyah-Wartawan Radar Surabaya

Tindakan kurang terpuji Donwori,26, ini tak patut dicontoh oleh laki-laki manapun. Sudah punya istri, hamil besar lagi. Eh tapi masih suka keluyuran. Iya kalau punya uang banyak. Lah ini uangnya pakai uang gajian yang harusnya dipasrahkan sepenuhnya kepada istri.

“Uang gajian dihabiskan semalam. Yoopo gak ngelus dodo, Mbak,” curhat karin di kantor pengacara, dekat Pengadilan Agama (PA) Klas 1A Surabaya, awal pekan lalu.

Ceritanya terjadi dua bulan yang lalu saat malam minggu. Saat itu Karin menunggu Donwori pulang. Hanya saja ditunggu lewat tengah malam, suaminya tak kunjung pulang. Usut punya usut, ia cangkrukan bareng teman-temannya. Bahkan, dalam satu malam, mereka pindah tiga tempat.

Pertama cari makan, kedua ngafe. Belum cukup puas, mereka melipir ke warung kopi  sampai pagi. Luar biasanya, semua pengeluaran itu Donwori yang nanggung. Dari hasil kerja keras selama satu bulan.

Keesokan harinya, Karin meminta jatah bulanan. Namun, begitu licinnya mulut Donwori menjawab kalau uang gajiannya habis semalam. Untuk mentraktir teman-teman. Demi gengsi yang harus di junjung tinggi. Tak habis pikir dengan kelakuan suaminya, saat itu juga Karin minta cerai.

Jangan bilang Karin berlebihan atau baper. Namun, kalau nemu spesies suami macam Donwori, siapa pun perempuannya pasti juga akan kesal setengah mati. Karena hal-hal seperti ini tak cukup sekali dua kali. Sering pol.

Suatu ketika, ia juga pernah mengajak Karin liburan ke luar kota. Ia senang setengah mati dua hari menginap di hotel. Makan enak, pergi ke tempat-tempat enak.

Namun, segala kenikmatan itu hanya bertahan sesaat karena beberapa hari kemudian, Donwori mangkir dari tugasnya memberi jatah. “Wes entek tak gawe nyenengne kon wingi, sik digoleki wae,” kata Karin, menirukan  kalimat yang keluar dari mulut Donwori yang licin.

Donwori bagi Karin memang belum bisa dewasa. Istilah jawanya, uteke durung nyaut untuk mikir kebutuhan rumah tangga yang njelimet. Yang dipikir hanya kesenengannya sendiri.  Ia bahkan tak pernah berpikir mau ngasih makan apa sama istri.

Ya masak, dalam satu tahun, Donwori ini safari ke beberapa perusahaan. Alias gonta-ganti pekerjaan. Terhitung sudah dua puluh kali ia gonta-ganti pekerjaan. Alasannya, tidak betah. Walhasil, ekonomi pasutri tiga tahun ini defisit terus. Tak punya pemasukan yang stabil.

Belum lagi, kalau sedang tak punya uang, Donwori kerap mendesak Karin untuk ngutang ke orang tuanya sendiri. Donwori sih santai, biasa. Karin malu setengah mati. Uang hasil utangannya dilarikan ke mana? Kalau untung ya di buat biaya hidup sehari-hari, kalau apes yah.. diambili Donwori sedikit demi sedikit buat modal cangkrukan.

Demi menghadapi suami yang tak tahu diri ini, Karin mantab untuk mundur. Ia tak tahan lagi jadi korban pemerasan suaminya sendiri. Makan energi dan perasaan juga. “Kate nduwe anak ae gak nduwe tabungan. Perlengkapan bayi opo-opo yo durung nduwe, ampunnn ampunn,” pungkasnya. (*/opi)

(sb/is/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia