Kamis, 14 Nov 2019
radarsurabaya
icon featured
Iso Ae

Suami Hobi Bikin Anak, Tapi Jatah Bulanan Gak Mampu

13 Agustus 2019, 04: 25: 59 WIB | editor : Wijayanto

Ilustrasi Iso Ae

Ilustrasi Iso Ae (GRAFIS: FAJAR KRISNA)

Share this      

Punya anak lima sekali pun tidak akan terasa jika memiliki suami kaya raya. Mamanya tinggal merawat tubuh sendiri. Anaknya punya pengasuh satu-satu.

Ismaul Choiriyah-Wartawan Radar Surabaya

Sayangnya, suami Karin, 28, bukanlah pria kaya raya. Donwori hanyalah instruktur kebugaran yang setiap malam merengek meminta tambah anak. Padahal sudah punya tiga balita.

Mengapa Donwori begitu ingin punya banyak anak, Karin sendiri tak habis pikir. Kalau ditanya, jawabannya, anak tiga kurang ramai. Kurang mantep. Donwori sendiri masih ingin punya anak lima. Mumpung masih muda, katanya. Masih kuat kerja untuk membiayai anak.

Tentu keinginan Donwori ini ditentang Karin. Ia sudah tak kuat lagi merasakan sakitnya melahirkan normal. Tak kuat juga mengurusnya ketika sudah lahir. Ribet. Tiga saja sudah membuatnya tak bisa istirahat. Apalagi mau nambah dua lagi. 

 "Kalau malam-malam minta tambah, pasti aku jawab sedang capek. Tapi, dia malah senang. Bagus itu kalau nanti jadi  anak kita bisa perempuan," ujarnya keheranan.

Karin curhat tentang persoalan keluarganya itu saat menjalani proses konsultasi di Pengadilan Agama (PA) Klas 1A Surabaya, belum lama ini.

Ya, logika Donwori memang aneh. Katanya kalau berhubungan suami istri pas energi sedang on, maka hasilnya jadi anak laki-laki. Kalau capek, hasilnya perempuan. Makanya, ia malah senang kalau Karin capek. Karena Donwori pengen nambah anak perempuan.

Karin memang sudah kewalahan punya tiga anak. Ia stres karena waktunya banyak tersita untuk mengurus anak. Ia bahkan sudah merelakan pekerjaannya. Fokus jadi ibu rumah tangga. "Sebenernya aku pengen balik lagi ngajar di TK, Mbak. Biar nambah penghasilan. Kalau nambah-nambah anak terus, kapan aku kerjanya," lanjutnya.

Keinginannya kembali bekerja juga tak lepas dengan Donwori yang tak tahu diri. Punya banyak anak, tapi njatah bulanan juga sekenanya. Tanpa mengerti kalau biaya popok itu bisa menghabiskan setengah jatah bulanan sendiri.

Belum lagi masalah mengurus anak. Yang seluruhnya dilimpahkan ke Karin. Selama ini, Donwori sama sekali tidak membantu. "Ini Mas Wori saja kalau tak minta jagain bentar mesti mengeluh. Katanya ngurus anak itu tugas perempuan, laki-laki cuma kerja. Tapi ya podo wae, kerja tapi ndak bisa nyucuk sembarange," keluhya lagi.

Hingga perceraian ini pun tak bisa terelakkan. Alasannya, makin hari Donwori kian ngotot. Donwori tetap ingin punya anak. Kalau Karin tidak mau, Donwori mengancam mau cari yang lain. "Tak tegesi, cari aja kalau memang mau nambah istri. Tapi ceraikan aku dulu, uang buat sekeluarga saja tidak cukup, mau tambah-tambah," tukasnya. (*/opi)

(sb/is/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia