Jumat, 24 Jan 2020
radarsurabaya
icon featured
Surabaya

Kampus Harus Dilibatkan dalam Pembuatan Mobil Listrik

12 Agustus 2019, 18: 44: 08 WIB | editor : Wijayanto

SI HITAM: Mobil listrik Lowo Ireng Reborn buatan ITS.

SI HITAM: Mobil listrik Lowo Ireng Reborn buatan ITS. (DOK/JPNN)

Share this      

SURABAYA –  Pengamat transportasi, Rohman Rohim , menyarankan pemerintah agar memfasilitasi pengembangan mobil-mobil listrik di kampus dengan mendirikan pabrik mobil listrik.  Pusat  Unggulan Iptek Sistem Kontrol Otomotif (PUI-SKO) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), adalah salah satu yang sudah bertahun-tahun melakukan studi dan sudah menghasilkan mobil listrik.  

Sebelumnya Pemerintah berupaya mempercepat pengembangan produksi mobil listrik di dalam negeri, sesuai pernyataan Presiden Joko Widodo yang telah menandatangani perpres terkait hal tersebut, dengan harapan para pelaku industri otomotif di Indonesia merancang dan membangun pengembangan mobil listrik pada 2021.

Airlangga Hartarto Menteri Perindustrian menyampaikan, kebijakan mengenai mobil listrik berkaitan erat dengan pengembangan ekosistem yang terkait dua hal. Salah satunya terkait percepatan, pembagian tugas-tugas bagi kementerian, antara lain dalam hal penyediaan infrastruktur, pengaturan riset dan pengembangan.

Airlangga menuturkan, dalam perpres terkait mobil listrik diatur juga Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) yang harus mencapai 35 persen pada 2023. Guna mendorong pengembangan industri mobil listrik Tanah Air, pada tahap awal, pemerintah akan memberikan kesempatan kepada para pelaku industri otomotif untuk mengimpor dalam bentuk Completely Built Unit 

"Beberapa kampus di Indonesia termasuk di Jawa Timur saat ini membuat percobaan tentang mobil listrik, dan pemerintah perlu mendirikan pabrik mobil listrik sendiri untuk memfasilitasi pengembangan mobil listrik yang sedang diujicoba di kampus-kampus. Saya kira itu lebih baik," kata Rohman Rohim yang juga dosen ITS ini.

Dia menjelaskan bahwa kalau memang pemerintah serius ingin mengembangkan mobil listrik, pemerintah harus membangun industri mobil listrik sendiri. Jika membutuhkan bantuan dari pihak asing, perekrutan tenaga asing hanya sebatas dalam rangka proses transfer teknologi mobil listrik kepada ahli-ahli di Indonesia.  "Begitu teknologinya sudah dikuasai, semua proses pembuatan mobil listrik harus dijalankan oleh kita," pungkas Rohman Rohim. (rmt/rak)

(sb/jpg/jay/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia