Kamis, 22 Aug 2019
radarsurabaya
icon featured
Lifestyle Surabaya
Buku Esai Karya 26 Penulis Wanita

Pesan dari Anak Perempuannya untuk Ayah

11 Agustus 2019, 10: 00: 59 WIB | editor : Abdul Rozack

PENUH MEMORI: Sebanyak 25 orang penulis wanita saat menghadiri peluncuran buku esai yang berjudul Lelaki Pertamaku karya mereka, di Grand City Mall Su

PENUH MEMORI: Sebanyak 25 orang penulis wanita saat menghadiri peluncuran buku esai yang berjudul Lelaki Pertamaku karya mereka, di Grand City Mall Surabaya, Sabtu (10/8). (ANDY SATRIA/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Sosok seorang ayah di mata anak-anaknya bisa berbeda satu dengan yang lain. Banyak yang menganggap ayahnya sebagai pahlawan. Namun, banyak pula yang menganggap ayah sebagai sosok jahat. Sosok pemberi trauma yang dibawa hingga tumbuh dewasa. Meski tak ada sekolah untuk mereka, ayah tetaplah ayah. Yang wajib dicintai dan dihormati. 

Segala perasaan kepada ayah inilah yang coba diungkapkan oleh 25 penulis perempuan dalam buku indie, Lelaki Pertamaku. Buku kumpulan esai ini berisi cerita dan kenangan tentang sosok ayah di mata mereka. Ada yang bahagia penuh nostalgia, ada penyesalan, juga ada kebencian yang berujung keikhlasan. 

Salah satu kisah dibagikan oleh Ellen Pratiwi,46 dalam Judul Berbagi Ayah.  Ia mengisahkan bagaimana perasaan seorang anak dari bapak yang berpoligami. Dalam empat lembar kisahnya, ia bercerita, betapa poligami merenggut waktu bersama ayah sepenuhnya.Ia merasakan sendiri, bagaimana dalam satu minggu ayah tinggal dengan ibu tiri, tiga hari dengan ibu kandung.

Ellen muda kala itu marah. Bahkan luka itu bertambah ketika sang ayah menikah lagi untuk ketiga kalinya, sepeninggal dua istri sebelumnya. Mengabaikan restu dari anak-anak. Ia kala itu juga tak terima, hingga kini, istri ketiga itu meninggal juga. Dan ia, sebagai anak perempuan yang tersisa di Surabaya, menjadi pengasuh utama dari ayahnya yang terkena stroke. Ia pun belajar berdamai dengan luka-luka yang diberikan ayahnya dahulu. “Saya ingin para ayah tahu, bahwa poligami bukanlah urusan suka sama suka antara dua orang, ada pihak lain yang sebenarnya dirugikan, yaitu anak-anaknya,” jelasnya dalam sesi peluncuran buku di Atrium Grand City Mall Surabaya, Sabtu (10/8).

Wina Bojonegoro, penulis sekaligus koordinator dan penerbit menjelaskan, buku ini didedikasikan untuk sosok ayah. Yang penghargaannya tidak diagungkan seperti seorang ibu. 

Lewat buku ini ia ingin pembaca, khususnya calon ayah bisa belajar untuk menjadi sosok yang bijak. “Hati-hatilah menjadi ayah, karena kenangan tentang ayah bisa dicatat jelas oleh anak perempuannya. Bagaimana kalian ingin dikenang oleh anak anda,” tukasnya. (is/nur)

(sb/is/jek/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia