Kamis, 14 Nov 2019
radarsurabaya
icon featured
Lifestyle Surabaya
Film Adaptasi Novel Pramoedya, BUMI MANUSIA

Oliver Stone, Riri Riza, Garin Pun Ditolak, Ini Alasan Memilih Hanung

10 Agustus 2019, 13: 21: 31 WIB | editor : Wijayanto

IMPIAN: Hanung Bramantyo (kanan) mengarahkan pemain dalam film Bumi Manusia.

IMPIAN: Hanung Bramantyo (kanan) mengarahkan pemain dalam film Bumi Manusia. (DOK JPNN/INSTAGRAM HANUNG)

Share this      

SURABAYA - Astuti Ananta Toer punya alasan tersendiri memilih Hanung Bramantyo sebagai sutradara untuk film yang diadaptasi dari novel ayahnya. Ia melihat ketulusan dari Hanung tanpa mengincar profit.

Itulah yang membuat dia dan keluarga mempercayakan Bumi Manusia ke sutradara penghasil banyak film box office tersebut. "Tadi aku lihat terharu sekali. Apalagi scene terakhir, bagus sekali," ujarnya.

Ia mengaku, sebenarnya dari tahun 1980, sudah banyak sutradara kawakan dan produser terkenal yang melamar ingin memfilmkan novel Bumi Manusia yang sudah disadur dalam 32 bahasa itu. Dimulai dari Bola Dunia di tahun 1981, namun gagal karena buku Bumi Manusia dicekal oleh pemerintah Orde Baru.

Siapa sangka, kegagalan itu justru membuat banyak sutradara kawakan melirik. Tak main-main, sutradara Hollywood sekaliber Oliver Stone yang menukangi banyak film kelas Oscar macam Platoon, Nixon, JFK, dan Fourth of July, melamar untuk menggarap Bumi Manusia.

Namun lamaran itu ditolak mentah-mentah oleh Pramoedya yang tak ingin novelnya digarap orang asing. Padahal sang sutradara sudah menawarkan USD 1,5 juta untuk menggarap novel laris itu.

Kemudian ada pula produser Elang Perkasa yang mengajukan sutradara Riri Riza dan Mira Lesmana untuk menggarapnya. Dengan penulis scenario Jujur Prananto. Namun, lamaran ini masih tak diterima Pram.

Hingga muncul sutradara Garin Nugroho ingin mengangkat novel itu ke layar lebar. Lagi-lagi, sutradara film Pasir Berbisik yang meraih Piala Citra itu tak jodoh. Karena konflik internal dengan produser, rencananya gagal di tengah jalan.

Hanung pun muncul yang digandeng Deddy Mizwar. Hanung bahkan rela tak dibayar demi mengangkat novel kegemarannya semasa remaja itu ke layar perak. Namun, harapan Hanung harus terkubur karena gagal di tengah jalan.

Impian Hanung untuk menukangi Bumi Manusia kembali membuncah saat produser Falcon Pictures yang berhasil membeli hak adaptasi novel Bumi Manusia pada 2014 menghubunginya. Ia sampai bersujud syukur karena ternyata Tuhan masih mendengar doanya. “Ini mimpi yang jadi kenyataan,” ungkapnya.

Melalui film ini, Astuti Ananta Toer berharap novel-novel lama milik ayahnya dapat dikenal lebih luas dan menjadi pelajaran tentang sejarah bagi anak muda milenial. "Dulu sebelum ada film ini, kita sebulan berapa kali pergi ke sekolah-sekolah, ke daerah, universitas, untuk memperkenalkan buku. Itu ruang lingkupnya kecil. Mungkin dengan film ini, penyebarannya akan jadi semakin luas," katanya. (is/jay)

(sb/is/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia