Kamis, 22 Aug 2019
radarsurabaya
icon featured
Lifestyle Surabaya

Sempat Ditolak Pram Filmkan Bumi Manusia, Hanung Nangis Peluk Astuti

10 Agustus 2019, 13: 15: 24 WIB | editor : Wijayanto

HARU: Hanung Bramantyo memeluk Astuti, putri Pramoedya Ananta Toer, usai gala premiere film Bumi Manusia.

HARU: Hanung Bramantyo memeluk Astuti, putri Pramoedya Ananta Toer, usai gala premiere film Bumi Manusia. (ISMAUL CHOIRIYAH/RADAR SURABAYA)

Share this      

Surabaya - Tangis sutradara film Bumi Manusia, Hanung Bramantyo, pecah saat menyalami puteri Pramoedya Ananta Toer, Astuti Ananta Toer. Usai gala premiere film Bumi Manusia yang digelar Jumat malam (9/8) di Surabaya Town Square (Sutos), peraih Piala Citra itu terlihat mencium tangan dan memeluk puteri keempat dari sastrawan kenamaan Indonesia ini.

"Saya berterima kasih kepada Ibu Astuti atas kepercayaannya buat saya. Tanpa restunya, saya tidak akan punya kesempatan untuk memfilmkan ini," ujarnya.

Hanung menjelaskan, untuk bisa menggarap film adaptasi novel ini merupakan perjalanan yang panjang. Ia mengaku sempat ditolak langsung oleh Pram –sapaan Pramoedya- saat mengutarakan keinginannya untuk memfilmkan Bumi Manusia.

Beberapa kali ia juga kena PHP oleh produser yang menawarinya untuk menggarap film tersebut. "Kemudian akhirnya, ya sudahlah, saya ikhlas, saya gak ada keinginan untuk menayangkan Bumi Manusia sama sekali, biarkan jatuh ke tangan orang yang tepat. Eh di tengah keikhlasan saya, tiba-tiba telepon berdering, saya ditawari menggarap film Bumi Manusia," katanya dengan wajah semringah.

Sutradara kelahiran Jogja ini bertutur, memfilmkan Bumi Manusia merupakan cita-citanya sejak sekolah. Ia mengaku jatuh cinta dengan alur cerita dari buku pertama tetralogi novel karya Pram yang dibuat selama mendekam sebagai tahanan politik di Pulau Buru, Ambon.

Saking sukanya dengan alur cerita Bumi Manusia, Hanung mengaku sudah menamatkan buku yang kali pertama diterbitkan tahun 1980 itu sebanyak tiga kali. Pertama saat SMA, kedua saat di bangku kuliah dan ketiga saat reformasi.

Di bangku kuliah itulah, ia sempat ‘melamar’ ke Pramoedya untuk memfilmkan salah satu karakter kuat di novel Bumi Manusia, Nyai Ontosoroh. "Tapi saya pulang dengan rasa kecewa, karena saya belum mendapatkan restu pada waktu itu," ujarnya.

Dari buku Bumi Manusia, Hanung mengaku belajar bahwa penjajahan bukan persoalan orang luar Indonesia melawan Indonesia. Tapi antara diri sendiri terhadap orang sekeliling. Bukan hanya persoalan warna kulit, pribumi atau non pribumi. Tapi sesama orang saling menjajah. Bahkan pribumi dan pribumi juga saling menjajah. Itulah yang mendorong bapak empat anak ini kembali mempelajari dan memahami sejarah Indonesia.

Lewat film Bumi Manusia, ia ingin mengajak anak muda mengkaji ulang sejarah Indonesia yang kerap hanya disodorkan secara hitam putih, benar dan salah. (is/jay)

(sb/is/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia