Sabtu, 21 Sep 2019
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi Surabaya

Tiga Tahun Lagi Okupansi Perkantoran Turun 50 Persen, Ini Sebabnya

07 Agustus 2019, 18: 38: 30 WIB | editor : Wijayanto

BANYAK PROYEK BARU: Deretan bangunan perkantoran di pusat kota Surabaya.

BANYAK PROYEK BARU: Deretan bangunan perkantoran di pusat kota Surabaya. (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Associate Director Research Colliers International memprediksi tingkat okupansi perkantoran di Surabaya dalam tiga tahun ke depan bakal turun di bawah 50 persen seiring dengan terselesaikannya sejumlah proyek baru.

Senior Associate Director Research Colliers International Ferry Salanto mengatakan, tren penyerapan ruang perkantoran di Surabaya saat ini memang belum maksimal. Dengan jumlah pasokan saat ini yang mencapai 340.789 meter persegi, tingkat hunian di semester I mencapai 78,1 persen.

"Tapi nanti setelah tiga tahun sejumlah proyek baru mengisi pasar, tingkat huniannya akan turun perkiraan 48 persen. Pasokan yang besar ini akan menjadi tantangan besar bagi para pengembang," katanya.

Ferry menjelaskan, pasokan gedung perkantoran baru dalam tiga tahun ke depan diperkirakan melejit sampai dua kali lipat, setidaknya ada 10 gedung perkantoran baru yang akan beroperasi pada 2022. "Proyeksi pasokan baru sampai 2022 mencapai 192.697 meter persegi untuk perkantoran sewa, dan 106.507 meter persegi untuk perkantoran jual," ujarnya.

Menurutnya, saat ini pengembang lebih mengutamakan komitmen sewa terlebih dahulu sebelum memulai konstruksi agar tingkat huniannya tercapai. Selain itu, konsep pengembangan gedung perkantoran saat ini cenderung memastikan captive market dari grup perusahaan, setidaknya 60 persen dari total luas gedung.

"Sedangkan 40 persennya untuk disewakan ke pihak luar, sehingga pengembang tersebut punya posisi tawar yang kuat," katanya.

Adapun total pasokan baru ruang perkantoran yang beroperasi tahun ini disuplai oleh pengembangan besar di antaranya seperti Intiland dengan proyek Praxis seluas 12.000 meter persegi di pusat kota, dan Spazio 20.000 meter persegi di Surabaya Barat.

Selain itu ada Voza Tower 18.060 meter persegi garapan Tanrise di Surabaya Barat dan Pakuwon Tower 39.740 meter persegi di pusat kota. "Sedangkan pasokan baru pada 2020 nanti akan ada Telkom Smart Office seluas 21.057 meter persegi di Surabaya Timur," imbuhnya.

Ferry menambahkan, pengembang perlu berinovasi dalam memasarkan produk perkantoran di Surabaya, mengingat semakin ketatnya persaingan. Selain itu, tren menempati gedung untuk kantor di Surabaya masih belum sebaik di Jakarta.

Hal ini sebabkan oleh kenyamanan orang untuk berusaha di rumah atau ruko. Sementara dari sisi kebijakan pemerintah daerah kurang begitu ketat dalam mendorong pemanfaatan gedung perkantoran. "Kalau di Jakarta itu ada aturan pemerintah yang mengharuskan usaha hanya boleh berdiri di dalam gedung, karena kalau di ruko berkaitan dengan tata ruang kota yang juga bisa menyebabkan kemacetan, lantaran lahan parkir tidak besar," jelasnya.

Namun demikian, lanjut Ferry, ruang perkantoran Surabaya masih punya pasar potensial yang mendorong kinerja, yakni perusahaan yang bergerak di sektor keuangan atau perbankan dan asuransi. (cin/nur)

(sb/cin/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia