Jumat, 24 Jan 2020
radarsurabaya
icon featured
Sidoarjo

Pemberian ASI Didukung Keluarga, Jangan Percaya Mitos Berikut Ini

07 Agustus 2019, 18: 15: 40 WIB | editor : Wijayanto

BELAJAR: Tim konselor pekan ASI di RSUD Sidoarjo memberikan sosialisasi, Senin (5/8).

BELAJAR: Tim konselor pekan ASI di RSUD Sidoarjo memberikan sosialisasi, Senin (5/8). (RIZKY PUTRI PRATIMI/RADAR SURABAYA)

Share this      

SIDOARJO – Pekan Air Susu Ibu (ASI) internasional, mulai digelar di RSUD Sidoarjo. Tim promosi kesehatan rumah sakit (PKRS) bersama konselor ASI memberikan edukasi pentingnya pemberian ASI.

Dengan tema Ayah dan Ibu Kunci Keberhasilan Menyusui, mereka berkeliling untuk memberikan materi tentang pentingnya ASI bagi kehidupan bayi sampai usia 2 tahun. Dilanjutkan dengan konseling dengan tim konselor.

Keberhasilan pemberian ASI tidak berasal dari ibu. Namun, dari dukungan orang-orang sekitar, serta ketidakpahaman ibu akan teknik dan pola menyusui yang benar. Kemudian, ditambah dengan faktor makanan yang membantu meningkatkan produksi ASI. “Komposisi makanan harus seimbang, nasi sayur buah dan lauk pauk,” kata konselor ASI Siti Yunaria.   

Siti menjelaskan, masih ada beberapa mitos terkait ASI yang masih dipercaya di masyarakat. Mitos ini terkadang dipercaya oleh keluarga ibu yang menyusui. Sehingga ibu menyusui terpengaruh.

Seperti larangan makan makanan pedas bagi ibu menyusui. “Ibu baru melahirkan yang makan makanan pedas dikhawatirkan terkena diare. Dari diare tersebut mengandung bakteri yang bisa menular jika kebersihan tidak terjaga. Bukan karena ASI yang terimbas makanan pedas,” imbunya.

Selain itu, jika ASI tidak diminumkan dalam beberapa hari, ASI akan basi, ternyata tidak benar. “ASI selalu fresh. Kecuali kalau ASI itu diperah lalu penyimpanannya tidak sesuai standar, akan basi,” jelanya.

Apalagi, ada mitos yang mengatakan bahwa payudara akan turun jika menyusui. Payudara turun itu karena faktor usia.

Menyusui juga tidak perlu dibatasi. “Dimaksimalkan satu payudara harus kosong, baru pindah ke payudara sebelah,” katanya.

Indikator kecukupan ASI pada bayi dapat dilihat dari intensitas bayi buang air kecil dalam 24 jam, yakni minimal 6 kali.   

Ketua tim PKRS RSUD Sidoarjo Sulasmijati mengatakan, dalam pemberian konseling, suami dilibatkan. “Berpartisipasi membantu pekerjaan ibu, menemani ibu ketika menyusui, terlebih lagi mengingatkan ayo menyusui. Insya allah lebih semangat dan percaya diri menyusui,” pungkasnya. (rpp/nis)

(sb/jpg/jay/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia