Minggu, 22 Sep 2019
radarsurabaya
icon featured
Iso Ae

Gaji Suami Habis untuk Nutupi Gengsi Mertua

03 Agustus 2019, 04: 30: 59 WIB | editor : Wijayanto

Ilustrasi Iso Ae

Ilustrasi Iso Ae (GRAFIS: FAJAR KRISNA)

Share this      

Memang menjengkelkan kalau punya mertua yang masih suka ikut campur urusan keluarga anaknya. Bukannya tidak berbakti, tapi seringkali mereka ngobrak-ngobrak tatanan yang dijalankan anaknya. 

Ismaul Choiriyah-Wartawan Radar Surabaya

Hal yang sama juga terjadi pada Karin, 24. Yang baru satu tahun menikahi Donwori, sudah mundur teratur gara-gara kelakuan mertuanya. 

Kalau Karin bilang, mertuanya ini nggedekne gengsi. Gengsi adalah nomor satu bagi si metua. Masalahnya, yang mertua buat tameng untuk menutup gengsi adalah anak mbarepnya, yang tak lain adalah Donwori,26, suami Karin. 

Mertua kerap kredit perabotan rumah tangga diam-diam. Ya televisi keluaran terbaru, ya AC, ya almari. Pokoknya beli barang terus biar dilirik oleh tetangga. Nah, tagihannya oleh mertua dilimpahkan ke Donwori.

"Anake yo meneng ae disetir mbokne. Bodo. Lek sek embok-emboken aslie gak usah ngrabi anake uwong. Aku gelem dirabi, ninggal keluargaku gawe melu dekne, tapi ra iso diandelno," keluh Karin puuannnjaaang lebar di kantor pengacara dekat Pengadilan Agama (PA) Klas 1A Surabaya.

Memang, kejengkelan Karin kepada mertuanya ini mau tidak mau juga mengerucutkan kejengkelannya pada suaminya. Karin merasa, Donwori belum sadar kalau statusnya kini sebagai kepala rumah tangga. Yang kewajibannya bukan lagi taat pada orang tua saja, tapi ya wajib mengayomi istri.

Penderitaan Karin masih panjang. Bahkan keinginan Karin lepas dari jeratan mertua, juga tetap saja diintervensi. Ia ingin ngekos dulu, mengumpulkan uang bareng Donwori dan membeli rumah jika uangnya terkumpul.

Sayang, dilarang dengan alasan sangat egois. Mertuanya takut Donwori lupa menjatahnya bulanan kalau mereka tidak serumah. "Jenenge anak ora ono sing lali ambek wong tuwone. Saitik-saitiko, gantiano, pasti wenehi. Iki kok iso mikir ngene," lanjutnya heran. 

Karin sendiri punya bayangan, selama ngekos nanti, ia juga membantu Donwori bekerja. Pikirannya jangka panjang. Ia ingin, setelah menikah beberapa tahun, punya rumah sendiri yang nyaman ditinggali bersama anaknya kelak.

Karin sendiri mengaku, kalau punya keinginan, ia bukannya memaksa suaminya menuruti. Tapi, ia mau kerja keras bareng Donwori. Namun lagi-lagi mertuanya menghentikannya. Ia disindir-sindir mau bekerja. Katanya, jadi istri ya di rumah saja ngurus rumah. Gak pantes nek wong wedok sing duwe bojo melu kerjo. Itu prinsip hidup si mertua.

Padahal dalam benak Karin, ia tambah stres di rumah 24 jam bareng mertua. "Kaet rabi ra oleh kerjo.Yo golek rai ne tonggo tetep. Cekne tonggone mikir lek anake iso nyukupi anake wong tanpa harus soro kerjo sisan bojo e. Padahal gajine lho mek piro. Pegawai toko ae,” lanjut Karin kesal. 

Lagi-lagi gengsi mertua bikin Karin makan ati. Tak cukup mengeluh, ia menimpali kata-katanya. "Terus lek gajie dijaluki terus, aku gak ono simpenan gawe nabung. Lah akui ya pengen omah-omah dewe. Urip enak. Lak entek gawe nomboki morotuo, sido gak oleh opo-opo. Lak nelongso malahan aku dirabi yo," keluhnya tiada akhir. 

Jika ditarik mundur lagi ke belakang, sebenarnya gengsi mertua Karin ini sudah kelihatan sedari ia dan Donwori akan menikah. Dulu, di pikiran Karin, menikah seadanya saja. Yang penting sah.

Tapi, orang tua Donwori tak terima. Mertua bahkan menggeler resepsi besar di rumah mempelai laki-laki yang sebenarnya tak perlu. Mengundang 600 orang lebih. Tentu saja ia tak keberatan karena biaya resepsi dibebankan ke Donwori. Nyicil lagi. Sampai mau cerai ini cicilan belum lunas pula. 

Keputusan Karin untuk bercerai ini sudah tak terbendung lagi. Ia gemas dengan mertuanya. Lebih gemas lagi dengan suaminya yang cuma bisa diam dan manut opo jare mertua. Setahun menderita cukuplah sudah bagi Karin.

Ia ingin bebas, mencari suami yang ngerti dan tentu yang tidak disetir mertua. "Lek aku ngomong bojoku iku ora iso diajak maju bareng. Aku terus sing ngomongi, ngerteni, tapi gak dirungokno. Kesel, Mbak," kekesalan Karin sudah tidak bia dibendung lagi. (*/opi)

(sb/is/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia