Jumat, 24 Jan 2020
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi Surabaya

Kenaikan Harga Cabai Kerek Inflasi di Jatim

02 Agustus 2019, 17: 14: 46 WIB | editor : Wijayanto

PEDAS: Harga cabai yang menyentuh level Rp 85 per kilogram menyebabkan Jatim inflasi di Juli sebesar 0.16 persen.

PEDAS: Harga cabai yang menyentuh level Rp 85 per kilogram menyebabkan Jatim inflasi di Juli sebesar 0.16 persen. (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur mencatat, berdasarkan pemantauan terhadap perubahan harga selama Juli di delapan kota, indeks harga konsumen (IHK) Jawa Timur menunjukkan adanya kenaikan harga di sebagian besar komoditas yang dipantau.

Hal ini mendorong terjadi kenaikan IHK sebesar 0,16 persen, yaitu dari 135,36 pada Juni menjadi 135,57 pada Juli. Inflasi Jawa Timur pada Juli ini lebih rendah dari inflasi nasional sebesar 0,31 persen. Inflasi ini cipicu oleh naiknya harga cabai rawit, emas perhiasan, dan daging ayam ras.

Kepala BPS Jawa Timur Teguh Pramono menuturkan, inflasi Juli lebih tinggi jika dibandingkan dengan bulan yang sama pada 2018. Dimana pada Juli 2018, provinsi ini mengalami inflasi sebesar 0,07 persen.

Namun, apabila dilihat dari tren musiman setiap Juli selama 10 tahun terakhir (2010-2019), seluruhnya mengalami inflasi. "Adapun pada Juli tahun ini, dari tujuh kelompok pengeluaran, enam kelompok mengalami inflasi dan satu kelompok mengalami deflasi," terangnya.

Inflasi tertinggi adalah kelompok sandang sebesar 0,93 persen, diikuti bahan makanan (0,83 persen), kesehatan (0,14 persen), pendidikan, rekreasi, dan olah raga (0,10 persen), perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar dan kelompok makanan jadi, minumanr Rokok, dan tembakau (0,08).

Teguh memaparkan, terdapat tiga komoditas utama yang mendorong terjadinya inflasi di Juli, di antaranya cabai rawit, emas perhiasan, dan daging ayam ras. Hal ini dikarenakan pada Juli harga cabai rawit naik drastis disebabkan oleh menipisnya pasokan yang ada di pasaran.

"Kenaikan harga cabai rawit membuat komoditas cabai rawit menjadi komoditas utama pendorong inflasi," ujarnya. Sedangkan komoditas lain yang menjadi pendorong inflasi adalah emas perhiasan yang masih mengalami kenaikan walaupun tidak setinggi bulan sebelumnya.

Harga daging ayam ras pada Juli mengalami kenaikan, dimana pada bulan sebelumnya sempat anjlok. "Pada bulan ini harga daging ayam ras berangsur normal sehingga turut mendorong inflasi bulan Juli," imbuh Teguh. 

Selain tiga komoditas utama pendorong inflasi di atas, komoditas lain yang juga mendorong terjadinya inflasi di Juli ialah cabai merah, udang basah, apel, ketimun, pisang, cumi-cumi, dan tahu mentah. 

Sementara, tiga komoditas utama yang menghambat terjadinya inflasi bulan kemarin ialah tarif angkutan udara, kereta api, dan angkutan antar kota. Tarif angkutan udara mengalami penurunan pada Juli setelah pemerintah menurunkan tarif pesawat berbiaya murah (low cost carrier/LCC) untuk beberapa rute penerbangan di hari-hari yang telah ditentukan.

"Komoditas yang juga mengalami penurunan harga adalah tarif kereta api. Setelah berakhirnya peak session pasca momen Idul Fitri dan libur sekolah, tarif kereta api kembali ke harga normal. Hal yang sama juga terjadi pada tarif angkutan kota, yang juga kembali ke harga semula sehingga menjadi salah satu komoditas utama penghambat inflasi," tuturnya.

Sedangkan komoditas lain yang menjadi penghambat inflasi ialah bawang putih, tomat sayur, bawang merah, kendaraan carter/rental, mujair, kelapa dan daging sapi. (cin/opi)

(sb/cin/jay/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia