Minggu, 15 Dec 2019
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi Surabaya

Gaya Hidup Bikin Mal Bertransformasi dan Dorong Ritel

02 Agustus 2019, 17: 12: 01 WIB | editor : Wijayanto

TERUS MENINGKAT: Pengunjung melenggang ke salah satu tenant di pusat perbelanjaan di Surabaya.

TERUS MENINGKAT: Pengunjung melenggang ke salah satu tenant di pusat perbelanjaan di Surabaya. (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Gaya hidup atau lifestyle masyarakat saat ini dinilai mampu terus mengubah dan mentransformasi pusat perbelanjaan, khususnya di Surabaya. Hal ini membuat mal menjadi dinamis sesuai dengan tuntutan zaman dan pasar, yang juga menjadi keharusan agar pusat perbelanjaan itu dapat bertahan.

Senior Associate Director Research Colliers International Ferry Salanto mengatakan, transformasi pusat perbelanjaan mampu mendorong kinerja ritel sehingga berpotensi semakin membaik. Hal ini ditandai dengan meningkatnya jumlah toko yang beroperasi.

Di sisi lain, pengembang juga harus terus beradaptasi dengan pasar yang dinamis dengan menyesuaikan gaya hidup dan kecenderungan segmen umur tertentu.

"Seperti peritel asing melihat Surabaya sebagai pasar potensial, seperti Max Fashion yang membuka gerai pertama di Surabaya, serta H&M, dan Uniqlo berpotensi untuk terus berekspansi di Surabaya," terangnya.

Ferry menambahkan, mulai beroperasinya Galaxy Mall 3 pada semester I/2019 membuat total pasokan pusat perbelanjaan di Surabaya diperkirakan tumbuh hingga 4 persen per tahun dalam kurun 2019-2022.

Lahan yang tersedia dan berkembangnya pembangunan rumah tinggal, menjadikan wilayah Surabaya Timur menjadi salah satu kontributor utama pusat perbelanjaan mendatang. "Selain itu, pusat perbelanjaan di atas terintegrasi dengan pengembangan properti lainnya seperti apartemen dan gedung perkantoran," ujarnya.

Sementara, laju tingkat hunian masih akan tertinggal oleh laju penambahan pasok per tahun pada 2019-2022. Akibatnya tingkat kekosongan diperkirakan hingga 30 persen.

Oleh sebab itu, pemilik mal akan menahan tarif sewa dan lebih fokus untuk mengangkat tingkat hunian. "Akibatnya tarif sewa diperkirakan hanya akan tumbuh kurang dari 2,5 persen per tahun setidaknya hingga 2-3 tahun ke depan," imbuh Ferry.

Terpisah, Ketua Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Jawa Timur Sutandi Purnomosidi menuturkan, pasokan ruang ritel baru akan ada lagi pada 2020 mendatang dengan adanya pembukaan East Coast Mall 2, serta rencana Ciputra World 2. "Akan ada banyak perluasan usaha dari tenant," ujarnya. (cin/opi)

(sb/cin/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia