Sabtu, 21 Sep 2019
radarsurabaya
icon featured
Iso Ae

Digugat Cerai, Mahar Pun Diminta Kembali

31 Juli 2019, 04: 50: 59 WIB | editor : Wijayanto

Ilustrasi Iso Ae

Ilustrasi Iso Ae (GRAFIS: FAJAR KRISNA)

Share this      

Kecewa saat digugat cerai pasangan, tentu wajar. Tapi, bentuk untuk mengekspresikan rasa kecewa bisa jadi ajaib. Kadang mangkelno, kadang juga kekanak-kanakkan.

Ismaul Choiriyah-Wartawan Radar Surabaya

Seperti kelakuan kekanak-kanakkan Donwori, 28, ini. Karena tak terima digugat cerai oleh Karin, 27, istrinya, ia meminta kembali mahar pernikahan yang dulu diberikannya.  “Dijaluk maneh tak wehno. Emas-emasan murah ae,” cerita Karin dengan nada super jengkel di warung gado-gado dekat Pengadilan Agama (PA) Klas 1A Surabaya, beberapa hari lalu.

Yang dimaksud Karin emas-emasan murah adalah  seperangkat perhiasan. Kalung, gelang, dan cincin yang Donwori beli di pasar untuk meminangnya. Sejak menjadi miliknya tiga tahun lalu, Karin tak pernah mengenakan perhiasan itu. Alasannya, eman. Dikeluarkan saat butuh saja.

Namun sejak menikah selama tiga tahun, beberapa kali Donwori membujuk Karin untuk mengeluarkan mahar itu dari persembunyiannya. Bukan untuk dikenakan, tapi dijual kembali. Untuk nomboki kebutuhan sehari-hari saat krisis. Namun, bujukan Donwori ini selalu dimentahkan oleh Karin. Pikirnya, ya masak, tanda cinta mereka dijual demi makan. Kalaulah dijual, ada lah saatnya. Ketika ada kebutuhan yang sangat mendesak saja.

Eh lha dalah, belum sampai pada butuhnya, rumah tangganya sudah bubaran saja. Diminta lagi maharnya. “Lek aku ngomong, nggilani kok. Cuma tak jarno ae. Sak polah-polahe, sing penting cerai,” lanjut Karin menggerutu.

Selama ini, Karin menyimpan perhiasan itu di dalam almari kecil di rumah kontrakannya. Donwori juga tahu tempatnya. Sejak rumah tangganya mulai gonjang-ganjing, ketika keduanya sudah tak saling bicara di rumah, mata Donwori tak pernah lepas dari almari itu. Memeriksa mahar dan harta simpanannya setiap hari.

Bahkan, kata Karin, ketika ia pura-pura tidur, Donwori kerap mengecek isi almari itu. Bahkan, malam sebelum Karin pamit mau pulang selamanya ke rumah orang tua, Donwori sempat-sempatnya menggeledah tas pinggangnya. Khawatir hartanya diselundupkan Karin dan dibawa lari. “Aku ngerti suarae. Cuma aku pura-pura merem,” lanjut Karin.

Karin tahu sikap menjengkelkan suaminya ini lantaran dipicu kecewa digugat cerai. Donwori awalnya memang menolak mentah-mentah ajakan Karin bercerai. Hanya saja Karin yang sudah tak tahan mendampingi Donwori. Kaya juga tidak, pelit sama istri iya. Ngamukkan lagi. Paket lengkap lah.  (*/opi)

(sb/is/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia