Sabtu, 25 Jan 2020
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi Surabaya

Asita: Sertifikasi Halal Dorong Daya Saing Usaha Pariwisata

30 Juli 2019, 14: 59: 47 WIB | editor : Wijayanto

BANYAK MANFAAT: Masih banyaknya UMKM yang belum menerapkan sertifikasi halal membuat Dinas Perdagangan Surabaya mendorong pelaku UMKM untuk melakukan sertifikasi guna mendorong daya saing.

BANYAK MANFAAT: Masih banyaknya UMKM yang belum menerapkan sertifikasi halal membuat Dinas Perdagangan Surabaya mendorong pelaku UMKM untuk melakukan sertifikasi guna mendorong daya saing. (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA – Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita) Jawa Timur menilai kunjungan wisatawan ke destinasi halal menunjukkan tren yang positif. Pihaknya juga meyakini prospek wisata halal masih cukup bagus ke depannya. Oleh sebab itu, saat ini terus dilakukan upaya untuk meningkatkan kunjungan pada obyek wisata halal. Salah satunya dengan menggerakkan pelaku industri pariwisata untuk mendapatkan sertifikasi halal.

Kepala Dinas Perdagangan Kota Surabaya Wiwiek Widyati menuturkan, pihaknya juga terus mendorong para pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) untuk mendapatkan sertifikat halal pada produknya.

Menurutnya, akan ada banyak manfaat yang akan diterima oleh UMKM setelah mengantongi sertifikat halal, seperti semakin luas jangkauan pemasaran produknya. “Apalagi saat ini juga banyak dikembangkan wisata halal. Ketika peluang ini ada di hadapan UMKM tentunya mereka harus menangkap peluang ini,” terangnya.

Menurutnya, pelaku UMKM juga akan mendapat kesempatan untuk bersaing dan bekerja sama dengan berbagai pihak. Wiwiek menjelaskan, sebenarnya produk-produk UMKM merupakan bagian dari pemberdayaan masyarakat.

Namun memang masih ada beberapa hal yang harus terus didorong, seperti legalitas, merek, dan termasuk sertifikasi halal. “Ketika mereka mendapatkan label halal, berarti apa yang dia jual sudah memenuhi kebutuhan warga seperti kehalalannya,” ujarnya.

Selain membantu menyiapkan produk-produk yang diproduksi oleh warga memiliki daya saing yang lebih kompetitif, pihaknya juga membantu sertifikasi surat izin usaha perdagangan (SIUP) untuk mempermudah pelaku UMKM.

Adapun sampai saat ini jumlah UMKM di Surabaya ada sekitar 10.500 UMKM, dimana 25 persennya sudah leading. Menurut Wiwiek, dari total jumlah tersebut, yang sudah bersertifikat halal lebih banyak merupakan UMKM kuliner yang jumlahnya lebih dari separuh. “Jadi dari 5.000 itu baru 1.000 yang mengantongi halal,” katanya.

Pihaknya menargetkan, sampai akhir tahun ini lebih dari 200 UMKM akan mengantongi sertifikasi halal. “Untuk sertifikasi halal ini sebenarnya tidak hanya dari pemerintah kota (pemkot) kadang-kadang selain adanya intervensi dari pemkot, mereka pun juga bisa melakukan dengan swasembada, artinya mereka secara mandiri melakukannya,” imbuhnya.

Terpisah, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jawa Timur Herry Siswanto juga mengakui, memang saat ini sudah banyak hotel-hotel yang sedang berproses untuk mendapatkan sertifikasi halal. Menurutnya, hal ini juga tidak lepas karena penduduk Indonesia yang mayoritas muslim. “Di samping itu, dari faktor kesehatan dan kualitas, hygine dari jenis makanan maupun minuman itu sendiri juga,” terangnya.

Herry menuturkan, adapun keuntungan yang akan didapat oleh hotel yang sudah memiliki sertifikat halal antara lain masyarakat akan semakin percaya dengan kualitas dari jenis makanan maupun minuman yang akan dikonsumsi. “Tamu tidak akan meragukan kualitasnya lagi karena sudah bersertifikasi halal. Secara ekonomi akan mendapat peningkatan revenue dari hotel itu sendiri,” ujarnya. (cin/nur)

(sb/cin/jay/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia