Sabtu, 21 Sep 2019
radarsurabaya
icon featured
Iso Ae

Mau ‘Melayani’ Hanya Setelah Terima Nafkah Bulanan

30 Juli 2019, 14: 51: 50 WIB | editor : Wijayanto

Ilustrasi Iso Ae

Ilustrasi Iso Ae (GRAFIS: FAJAR KRISNA)

Share this      

Kalau kata Donwori, 43, Karin, 37, adalah istri nggapleki. Kalau habis dijatah saja pelayanan ranjangnya totalitas. Giliran pertengahan bulan menuju tanggal tua, mulai ogah-ogahan.

Ismaul Choiriyah-Wartawan Radar Surabaya

Kedongkolan dengan sikap Karin inilah yang mendorong Donwori untuk menceraikannya. Ia merasa tertipu sekaligus terhina. Masa istri sah sendiri, tapi rasanya seperti njajan saja. Kalau ingin begituan, harus ngeluarin duit dulu. Yang pasangannya baru semangat ketika dibayar. 

Kebiasaan Karin ini sudah mulai nampak beberapa tahun terakhir. Awalnya, Karin malah bersikap ekstrim. Menolak untuk melayani dengan alasan segudang. Ya capai, ya sedang tidak mood, ya lagi kedatangan ‘tamu’. Nah, ketika dipaksa, jawabannya ngelunjak. Katanya memaksa istri melayani suami, sama saja dengan memperkosa.  “Rumangsane, berarti mekso bojo kon mblanjani tak itung pemerasan lek ngunu," ujar Donwori dengan nada super kesal saat berada di ruang tunggu Pengadilan Agama (PA), Klas 1A Surabaya. 

Memang, urusan ranjang ini membuat rumah tangga Donwori sedikit panas. Yang ia tidak habis pikir, Karin ini masih muda lho. Fisiknya masih oke. Setidaknya gairah seksualnya juga masih tinggi. Ini kenapa Karin jadi kehilangan gairah sama sekali. 

Beberapa kali sih setelah dipaksa, Karin tetap melayani. Tapi, ya itu tadi, hanya memenuhi kewajiban saja. Bukan melayani yang keduanya sama-sama aktif, sama-sama semangat layaknya pasangan masih muda. "Jangan-jangan jatah sampeyan kurang lagi, Mas?" tanya Radar Surabaya menyelidik. 

Yang langsung Donwori sambar, "Kurang apane? Dipikir dodolan nyekel duwet terus.  Jenenge karyawan gajian yo sak wulan pinsan." 

Donwori sendiri merasa selama ini sudah totalitas mblanjani  itu.  Separuh gajinya juga ia berikan ke Karin. Separuhnya untuk bayar operasional rumah tangga, seperti listrik dan kebutuhan anak. Lha kalau pelayanan yang berbanding lurus dengan waktu gaji ini karena Karin pikir kurang, tandanya istrinya itu tidak bisa mengatur uang. 

Kalau mau itung-itungan, lanjut Donwori, lebih baik ia jajan Rp 300 ribu sudah dapat dikalikan satu bulan empat kali. Sudah dapat cantik, pelayanannya totalitas. Lha dibanding Karin, diberi Rp 2 juta sebulan, cuma melayani di minggu-minggu awal gajian. Kalau caranya seperti itu, lak harganya tiga kali wanita panggilan. Cek mahale. "Sing iki malah gak macak, awul-awulan tapi malah luweh larang," pungkas Donwori.  (*/opi)

(sb/is/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia