Kamis, 19 Sep 2019
radarsurabaya
icon featured
Events Surabaya

Kemenag Imbau JCH Bayar Dam di Tempat Resmi

30 Juli 2019, 08: 20: 59 WIB | editor : Abdul Rozack

JCH Embarkasi Surabaya

JCH Embarkasi Surabaya (dok)

Share this      

SURABAYA - Bagi jamaah calon haji (JCH) yang melakukan haji tamattu, yakni melakukan ibadah umroh terlebih dulu seperti JCH Embarkasi Surabaya yang berangkat pada gelombang kedua. Yakni dengan menggunakan ihram dulu dan mengambil miqat dengan niat umroh pada musim haji, harus membayar dam atau denda.

Sekretaris Embarkasi Surabaya Jamal mengatakan, jamaah haji yang melakukan haji tamattu diimbau melakukan pembayaran dam melalui lembaga resmi. Sebab nilai manfaatnya lebih besar dan tersampaikan dengan baik. 

“Kami imbau jamaah jika membayar dam bisa melalui lembaga resmi yang disediakan oleh pemerintah Arab Saudi, selain itu juga bisa langsung diberikan kepada pembimbing haji untuk kemudian disetorkan kepada lembaga resmi,” katanya di Asrama Haji Embarkasi Surabaya (AHES), Senin (29/7).

Jamal mengatakan, Pemerintah Arab Saudi pun selalu meminta kepada Pemerintah Indonesia agar pembayaran dam disalurkan melalui Bank Pembangunan Islam (Islamic Development Bank/IDB) atau melalui saluran resmi yang dibuka pemerintah Arab Saudi, di antaranya Ar-Rajhi.  “Ar-Rajhi buka konter-konter di Masjidil Haram atau bisa juga melalui kantor pos. Namun dam ini kan pilihan ya, karena semacam denda ini kan tentu dibayar setelah melakukan kesalahan, dan pembayarannya kan pilihan,” terangnya.  

Berbeda dengan hewan kurban yang bisa disembelih di mana saja, menurutnya, penyembelihan hewan dalam pembayaran dam hanya boleh dilakukan di dalam area tanah haram atau Mekah. 

Sementara itu Jamal juga menginformasikan bahwa satu lagi JCH Embarkasi Surabaya asal Ponorogo meninggal dunia, JCH tersebut bernama Supiyah Binti Ridwan, 78. “Kami turut berbelasungkawa sedalam-dalamnya atas meninggalnya satu lagi jamaah dari Embarkasi Surabaya yang wafat di Mekah, karena sakit paru-paru,” ungkapnya.

Jamal menambahkan, ketika keberangkatan JCH tersebut dinyatakan istitoah (mampu) sehingga bisa berangkat ke tanah suci. “Saat itu jamaah tersebut (Supiah, Red) dinyatakan istitoah, namun Allah berkehendak lain sehingga beliau meninggal di tanah suci. Doa kita semua untuk para jamaah yang meninggal dan semoga tidak ada tambahn lagi cukup itu saja,” harapnya.

Selain itu, menurut Jamal, dari 505 JCH asal Ponorogo, ada 200 lebih JCH masuk dalam kategori risiko tinggi (risti). “Kami berharap JCH bisa menjalankan ibadah dengan maksimal dan bisa menjaga kesehatan. Karena haji membutuhkan fisik yang prima sehingga jamaah bisa mengatur kondisi badannya, apalagi cuaca disana (Arab, Red) juga cukup panas,” pungkasnya. (rmt/nur)

(sb/jpg/jek/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia