Selasa, 15 Oct 2019
radarsurabaya
icon featured
Features

CCFrontier dan Fenomena Plastik

Oleh: Eko Baskoro – Founder CCFrontier

29 Juli 2019, 18: 09: 26 WIB | editor : Wijayanto

Poster Indonesia Berubah Indonesia Bersih

Poster Indonesia Berubah Indonesia Bersih (ISTIMEWA)

Share this      

Saat ini keberadaan plastik menjadi sebuah fenomena. Dengan sifat plastik yang mudah dibentuk sesuai kebutuhan; tahan lama; bobot yang ringan; serta murah telah menjadikan plastik sebagai salah satu produk yang paling banyak digunakan oleh masyarakat. Mulai dari botol plastik, sedotan plastik, tas plastik, dan sekian banyak produk yang berbahan dasar plastik. Produk berbahan dasar plastik ini diakui atau tidak telah membantu kebutuhan kita sehari-hari.

Namun permasalahan muncul saat produk berbahan dasar plastik ini tidak lagi digunakan atau menjadi sampah. Keberadaan plastik yang sulit terurai atau membutuhkan waktu lama untuk terurai di alam, (belum lagi permasalahan microplasitic) merupakan sesuatu yang menakutkan serta sebuah ancaman bagi kehidupan manusia, hewan dan lingkungan.

1. United Nations Environment Programme (UNEP) menyampaikan sekitar 280 juta ton plastik diproduksi secara global setiap tahun (2015). Sebagian besar berakhir di lautan.

2. Data dari Jenna R Jambeck, University of Georgia (2015) menyebutkan bahwa China merupakan negara terbesar di dunia sebagai penghasil sampah di lautan (262,9 juta ton); Filipina menduduki peringkat ke-3 (83,4 juta ton), diikuti oleh Vietnam menduduki peringkat ke-4 (55,9 juta ton).

Eko Baskoro Founder CCF

Eko Baskoro Founder CCF (ISTIMEWA)

Bagaimana dengan Indonesia? “Indonesia merupakan negara terbesar ke-2 di dunia sebagai penghasil sampah plastik di lautan (187,2 juta ton) (Jenna R Jambeck, University of Georgia, 2015).”

Tahukah anda? Saat kita membuang produk plastik ke alam maka ada tiga kemungkinan yang terjadi: 1. Sampah plastik kita dipilah dan berakhir untuk didaur ulang, 2. Berakhir di pembuangan sampah bersama dengan sampah yang lain, 3. Berakhir di lautan.

Dengan begitu tingginya sampah plastik di lautan maka ini membuktikan bahwasanya proses daur ulang atau recycle tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Keadaan inilah yang mendorong CCFrontier sebagai sebuah komunitas yang concerned to nature protection and humanity untuk melakukan sesuatu. Sejak awal berdiri di tahun 2015, CCFrontier berusaha untuk memerangi sampah plastik dengan melakukan campaign yang fokus pada Reduce Plastic atau mengurangi plastik.

Saat ini CCFrontier memiliki 3 campaign yang fokus pada mengurangi plastik “Reduce Plastic”, yaitu:

Social experiment penggunaan sedotan di Excelso Malang.

Social experiment penggunaan sedotan di Excelso Malang. (ISTIMEWA)

Totebag Campaign, bertujuan untuk mengurangi penggunaan tas plastik. Dimana kami membagikan totebag secara gratis kepada masyarakat sebagai pengganti tas plastik. Campaign ini kami lakukan sejak tahun 2015 sampai hari ini.

Rekomendasi kami adalah “Selalu bawa tas belanja sendiri”. Rekomendasi ini berdasar pada hasil survey sederhana yang sering kami lakukan selama 4 tahun pada mereka yang menerima tote bag kami, dimana jika mereka menggunakan tas plastik maka mereka akan membuang tas plastik ke alam sekitar 3 tas plastik setiap minggu. Sehingga dalam 1 bulan sekitar 12 tas plastik yang dibuang. Jika mereka menggunakan tote bag maka dibutuhkan waktu sekitar 1 bulan lebih untuk dibuang ke alam.

Campaign #byesedotanplastik, bertujuan untuk mengurangi penggunaan sedotan plastik. Ditujukan kepada para pelaku industri: hotel; cafe; dan resto. Dimana mereka tidak lagi menyediakan sedotan plastik kecuali by request. Mulai dilakukan sejak tanggal 15 Februari 2019 dan saat ini sekitar 50 participants yang tergabung dalam campaign ini.

Rekomendasi kami untuk para pelaku industri adalah silahkan ganti sedotan plastik dengan sedotan non-plastik tapi jangan ganti prinsip “Sekali Pakai” dengan “Berulang kali Pakai” karena hampir 95% customer menolak.

Disarankan menggunakan sedotan sekali pakai seperti sedotan jagung atau kertas atau tidak memakai sedotan. Untuk pribadi silahkan menggunakan sedotan berulang kali pakai seperti stainless straw. Rekomendasi ini berdasarkan social experiment yang sering kami lakukan bersama participants kami untuk mengetahui respon customer terhadap sedotan non-plastic.

Campaign #byesmallestbottles, bertujuan untuk mengurangi penggunaan botol plastik. Ditujukan pada perusahaan yang menggunakan botol plastik untuk produk mereka, seperti danone; nestle dan yang lain. Saat ini kita mengetahui sekian banyak ukuran kemasan botol plastik mulai dari 1 liter; 600 ml; 500 ml; sampai pada 220 ml dan bahkan lebih kecil dari itu.

Rekomendasi kami adalah Lakukan Pembatasan Terhadap Ukuran Botol Plastik. STOP menggunakan botol plastik di bawah 500 ml karena cepat menjadi sampah plastik. Rekomendasi ini berdasarkan pada experiment sederhana yang kami lakukan terhadap beberapa ukuran kemasan botol plastik. Seperti kemasan botol air mineral 500 ml membutuhkan waktu sekitar 2 jam untuk menjadi sampah.

Sedangkan ukuran di bawah 500 ml atau 220 ml membutuhkan waktu hampir bersamaan untuk menjadi sampah. Kita beli; Kita Minum; Kita buang dalam waktu yang hampir bersamaan.

Mari kurangi penggunaan produk plastik dan tingkatkan peran bank sampah sebagai media dalam daur ulang plastik serta mengurangi sampah plastik. (ccf/jay)

(sb/jpg/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia