Senin, 27 Jan 2020
radarsurabaya
icon featured
Features Surabaya
Pasar Buku Bekas di Tahun Ajaran Baru Sekolah

Pembeli Sepi, Pedagang Hanya Bisa Pasrah

27 Juli 2019, 10: 30: 59 WIB | editor : Wijayanto

BERTAHAN: Hakim Muslim, salah satu pedagang buku bekas di Pasar Blauran, yang masih bertahan berjualan di tengah lesunya penjualan buku bekas.

BERTAHAN: Hakim Muslim, salah satu pedagang buku bekas di Pasar Blauran, yang masih bertahan berjualan di tengah lesunya penjualan buku bekas. (HERNINDA CINTIA/RADAR SURABAYA)

Share this      

Biasanya, di tahun ajaran baru, para pedagang buku bekas akan kecipratan rezeki. Namun, beberapa tahun terakhir, mereka harus lebih bersabar. Pasalnya, jumlah penjualan buku pelajaran bekas, mulai dari tingkat SD, SMP, dan SMA mengalami penurunan drastis.

HERNINDA CINTIA-Wartawan Radar Surabaya

Salah satu faktor penurunannya disebabkan minat siswa untuk membeli buku pelajaran bekas, mulai menurun. Hal ini lantaran adanya perubahan-perubahan yang terjadi pada buku pelajaran tersebut. 

Menurut Hakim Muslim, salah satu pedagang buku di Pasar Blauran, banyak pedagang yang mulai tertekan karena semua buku pelajaran berganti hampir setiap tahunnya. Sebenarnya, kurikulum yang digunakan tetap sama. Hanya saja edisi bukunya yang berganti. Menghadapi kondisi tersebut, Hakim mengaku biasanya ia juga membeli buku langsung dari penerbitnya untuk dijual kembali.

"Dari tahun yang dulu-dulu sudah seperti ini, makanya pedagang-pedagang kecil ini tersiksa. Belum nanti banyak guru-guru yang juga jualan di sekolah. Kalau sekarang, hanya tinggal beberapa sekolah saja yang tidak menyediakan sehingga muridnya harus beli di luar," terang Hakim. 

Ia menuturkan, sebenarnya pergantian yang terjadi pada buku-buku pelajaran itu, tidak banyak. Beberapa hanya berganti warna dan desain sampul, serta tata letak bab-bab pelajaran di dalamnya.

"Tapi, itu saja anak-anak sudah tidak mau. Padahal isinya tetap sama. Cuma karena diganti, dipindah babnya akhirnya anak-anak SD (sekolah dasar) terutama, sudah tidak mau," jelasnya. Padahal anak-anak SD biasanya terpaku dan terpacu pada apa yang diarahkan. "Kalau dia nggak punya bukunya dia nangis," imbuhnya. 

Oleh karena itu, tren musim tahun ajaran baru memang tidak begitu memberi dampak yang signifikan pada penjualan buku bekas. Menurut Hakim, jika dilihat dari musimnya, pertam-tama memang kebanyakan anak SD yang mencari buku, karena yang pertama masuk sekolah adalah siswa SD.

"Tapi, kalau anak SD, ramainya hanya dalam dua minggu awal ajaran baru saja sudah selesai. Sedangkan untuk siswa SMP-SMA itu bisa mundur.  Apalagi kalau SMA. Kadang kalau anak SMP masih takut-takut, tapi kalau anak SMA tidak bisa beli sekarang mereka bisa beli besok-besok," tuturnya. 

Hal yang sama juga terjadi pada kalangan mahasiswa. Saat ini kadang-kadang dosen juga mewajibkan buku baru. "Padahal buku-buku mereka itu sama. Tidak akan berubah kalaupun berubah itu hanya sedikit perubahannya. Seperti Undang-undang, pidana, KUHP, tinggal penjabarannya berbeda. Tapi kalau ekonomi mungkin berubah, kalau teknik enggak, itu paten. Cuma cara ngajarnya itu," lanjut Hakim. 

Hal yang sama juga dialami pedagang buku bekas di Jalan Semarang. Tahun 2000-an, kawasan Jalan Semarang menjadi surganya anak sekolah yang modal untuk beli bukunya sangat cekak. Kawasan ini adalah ‘penyelamat’ supaya masih bias membawa buku ke sekolah. “Itu 20 tahun lalu. Sekarang, ya kayak gini ini. Sepi,” keluh seorang pedagang buku bekas di Jalan Semarang.

Maraknya ecommerce yang juga berjualan buku dinilainya menjadi pesaing ketat pedagang tradisional. Kehadiran toko buku online ini sangat dirasakan oleh pedagang tradisional. Pasalnya, kebanyakan dari mereka menjual buku bajakan yang dijual resmi di kanalnya.

"Ini sangat terasa sekali. Jika pedagang tradisional menjual buku bajakan bisa dipolisikan. Sedangkan yang dijual online itu jelas-jelas ditulis buku KW. Kenapa itu tidak ditindak. Ditambah sekarang banyak orang-orang yang menginginkan efisiensi," keluhnya. 

Meski begitu, ia tetap bisa melihat dari sisi positif. Pasalnya, untuk buku-buku tertentu yang sulit dicari, bahkan di media sosial pun tidak dapat, mereka akan pergi ke pedagang tradisional.

"Bagi mereka yang memang menyukai buku, senang belajar, biasanya mereka tetap dateng, lihat, malah kadang-kadang dibandingkan. Masalahnya sekarang banyak mahasiswa yang terpaku dengan dosennya. Itu yang membuat tidak berkembang, tapi masih banyak mahasiswa yang lebih kreatif. Meskipun mereka hanya beli buku satu, tetapi mereka punya kesempatan untuk baca-baca buku yang lain. Apalagi kalau terkait dengan skripsi," jelasnya. (*/opi) 

(sb/cin/jay/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia