Sabtu, 25 Jan 2020
radarsurabaya
icon featured
Surabaya

JCH Lansia dengan Gangguan Pikun Harus Ada Pendamping

27 Juli 2019, 09: 00: 59 WIB | editor : Abdul Rozack

Jamaah Calon Haji (JCH) Surabaya

Jamaah Calon Haji (JCH) Surabaya (dok)

Share this      

SURABAYA - Jamaah Calon Haji (JCH) lansia dengan gangguan demensia atau pikun sebaiknya memiliki pendamping. Karena jika tidak, potensi kekambuhan bisa terjadi. Yang imbasnya mereka dipulangkan atau ditunda keberangkatannya. 

Seperti yang terjadi di Asrama Haji Sukolilo Surabaya. Hingga 26 Juli kemarin, ada empat JCH lansia yang dipulangkan karena mereka mengalami kekambuhan demensia. Sehingga tidak layak terbang. Keempat JCH ini, tidak memiliki pendamping dari keluarga. 

Disampaikan oleh dokter penerbangan PPIH Surabaya dr Bangun Cahyo Utomo, pasien dengan gangguan demensia rentan mengalami kebingungan. Apalagi jika dihadapkan dengan lingkungan yang baru, sehingga membuat mereka stres dan tertekan. Hingga menyebabkan kekambuhan. "Orientasi ruang tempat dan waktu sudah terbatas. Jadi rentan mengalami kebingungan," jelasnya, Jumat (26/7). 

Keberadaan keluarga untuk mendampingi JCH sangat penting. Pendamping disarankan adalah keluarga yang memiliki ikatan dekat. Sehingga JCH lansia dengan demensia bisa merasa ada support dan percaya diri di lingkungan yang asing. 

Gejala-gejala demensia yang ditunjukkan empat JCH di asrama haji beragam. Ada yang lalu lalang di halaman tanpa tujuan, ada yang menolak diberi makan karena takut di racuni. Juga sebagian besar meminta dipulangkan karena tidak betah dan teringat urusan di rumah. "Nah ini lah peran pendamping dari keluarga. Untuk menenangkan JCH tersebut," lanjutnya. 

Sejauh ini, di Asrama Haji Sukolilo terdapat lima pasien demensia. Satu diizinkan berangkat karena gejalanya ringan. Sementara empat di antaranya dipulangkan. 

Untuk menentukan apakah JCH  layak terbang atau tidak, Tim Kesehatan PPIH akan melakukan pemeriksaan. Mereka yang terdiagnosis demensia akan di rujuk ke RSJ Menur untuk mengevaluasi status demensianya. Jika demensianya masih ringan, maka mereka layak terbang. Jika berat, maka mereka terpaksa dipulangkan. "Pasien demensia bisa menggagu jamaah lain, utamanya saat penerbangan karena perbedaan tekanan udara yang menyebabkan mereka rentan kambuh," paparnya. 

Sebenarnya, PPIH sudah memberikan keringanan bagi jamaah haji lansia. Mereka mendapat prioritas untuk diberangkatkan lebih awal, yakni tiga tahun setelah pendaftaran. Hal ini juga diberlakukan kepada pendamping dengan harapan JCH lansia tidak berangkat sendiri. Karena sebaiknya memang JCH lansia punya pendamping dari keluarga, agar lebih tenang ibadahnya," tukasnya. (is/nur)

(sb/is/jek/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia