Minggu, 23 Feb 2020
radarsurabaya
icon featured
Surabaya

Jamaah Haji Asal Bali Alami Peningkatan 50 Persen

26 Juli 2019, 17: 41: 52 WIB | editor : Wijayanto

BERTAMBAH: JCH asal Bali lakukan rekam biometrik di hall Zaitun sesaat setelah kedatangan di AHES, Jumat (26/7).

BERTAMBAH: JCH asal Bali lakukan rekam biometrik di hall Zaitun sesaat setelah kedatangan di AHES, Jumat (26/7). (RAHMAT SUDRAJAT/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Jamaah Calon Haji (JCH) kloter 60 dan 61 dari Provinsi Bali telah tiba di Embarkasi Surabaya, Jumat (27/7). Dua kloter dari Bali itu berjumlah total 700 JCH yang terbagi menjadi kloter 60 berjumlah 445 JCH dan kloter 61 berjumlah 255.

Usai masuk ke Asrama Haji Embarkasi Surabaya (AHES), mereka langsung melakukan perekaman biometrik di Hall Zaitun. Selain kloter 60 dan 61, nanti masih ada kloter 84 berjumlah 334 JCH yang akan datang di Embarkasi Surabaya pada 4 Agustus dari Bali.

Menurut Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kakanwil Kemenag) Provinsi Bali, I Nyoman Lastra, saat ditemui Radar Surabaya di AHES, para JCH ini di Bali belum mendapat perekaman biometrik. Sehingga mereka melakukan perekaman biometrik di Asrama Haji Sukolilo Surabaya. “Kami pastikan seluruh JCH hari ini sudah melakukan perekaman biometrik sebagai syarat sahnya penerbitan visa,” katanya.

I Nyoman mengungkap bahwa jamaah asal Bali tahun ini mengalami peningkatan dibandingkan dengan tahun lalu. “Dari total jamaah 1.054 orang pada tahun ini (2019) yang berangkat haji, 20 jamaah asal Bali berangkat dari luar Bali, dan meninggal dunia 1 sebelum berangkat ke Embarkasi Surabaya. Sehingga total jamaah asal Bali berjumlah 1.033 JCH.

"Kenaikan jumlah tersebut hampir 50 persen dibanding tahun lalu. Tentu ini menjadi angin segar bagi kami, dan porsi tunggu haji juga semakin maju,” ungkapnya.

Sementara itu, Sekretaris panitia penyelenggara ibadah haji (PPIH) Embarkasi Surabaya, Jamal, mengutarakan bahwa perekaman biometrik tidak memerlukan waktu yang lama. Masing-masing JCH hanya membutuhkan waktu kurang dari lima menit.

"JCH dari Provinsi Bali ini belum melaksanakan beometrik yang perekamannya dilakukan dengan sidik jari dan rekam kornea mata. Meskipun sudah ada yang melaksanakan biometrik, namun tetap kita lakukan proses biometrik ulang," katanya saat ditemui Radar Surabaya.

Biometrik tersebut dilakukan karena di Bali belum tersedia alat biometrik sehingga tujuan dari dilakukan perekaman biometrik di Embarkasi Surabaya untuk memudahkan dan mempercepat proses imigrasi saat tiba di Arab Saudi. “Jadi ketika nanti jamaah itu tiba di Jeddah, hanya melakukan pengecekan satu jari saja untuk validasi data apakah jamaah sudah biometrik apa belum,” terangnya.

Jamal yang juga menjabat Kabid Penyelenggara Haji dan Umroh Kemenang Jawa Timur mengatakan bahwa pihaknya tengah berupaya untuk mengusulkan adanya penambahan titik perekaman biometrik yang saat ini hanya ada di 4 titik di wilayah kerja Surabaya, Malang, 1Jember dan Banyuwangi.

“Mengingat jamaah haji dari Jawa Timur dan Embarkasi Surabaya yang cukup besar jumlahnya, kami usulkan baik kepada Kemenag pusat dan juga PT Tashel selaku penyelenggara perekaman biometrik dari pemerintah Arab Saudi untuk menambah 3 titik perekaman biometrik baru di Bojonegoro, Madiun dan Madura,” ungkapnya. Sehingga total ada 7 titik yang bisa dilakukan perekaman Biometrik.

“Ini juga tidak menutup kemungkinan untuk wilayah Bali dan NTT yang juga sudah kami usulkan. Toh sekarang jamaah Bali juga sudah banyak, sehingga bisa melakukan perekaman biometrik di wilayah Bali tanpa harus di Asrama Haji Embarkasi Surabaya,” pungkasnya. (rmt/jay)

(sb/jpg/jay/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia