Jumat, 24 Jan 2020
radarsurabaya
icon featured
Hukum & Kriminal Surabaya

Cabuli 15 Siswa Laki-laki, Pembina Pramuka di Surabaya Dipenjara

24 Juli 2019, 04: 03: 52 WIB | editor : Wijayanto

GURU CABUL: Tersangka Rahmat Santoso (kiri) yang diamankan di Polda Jatim atas kasus pencabulan.

GURU CABUL: Tersangka Rahmat Santoso (kiri) yang diamankan di Polda Jatim atas kasus pencabulan. (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA – Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) pada 23 Juli ditandai dengan aksi pencabulan yang melibatkan korban sejumlah anak-anak usia sekolah. Tak eloknya, pelaku adalah guru pembina pramuka yang mengajar di lima Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan dua sekolah dasar (SD) swasta dan negeri.

Pelaku yang kini diamankan Ditreskrimum Polda Jatim adalah Rahmat Santoso alias Memet, 30, warga Jalan Kupang Segunting IV, Kecamatan Tegalsari. Pelaku diketahui telah mencabuli sekurangnya 15 anak dari tiga sekolah yang dibinanya.

Namun, jumlah korban kemungkinan masih akan bertambah mengingat polisi masih melakukan penyelidikanke sekolah –sekolah lain yang mendapatkan pembinaan kegiatan pramuka oleh tersangka.

Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Frans Barung Mangera mengatakan, tersangka diketahui sudah mengajar di enam sekolah yang berbeda selama kurun empat tahun antara tahun 2016-2019. Selama itu, tentu sudah ratusan siswa yang dibimbingnya..

“Ini yang membuat kami menduga ada korban-korban lain sehingga kemungkinan jumlah korban akan bertambah,” kata Barung.

Sementara itu, Kasubdit IV Reknata Ditreskrimum Polda Jatim AKBP Festo Ari Permana mengungkapkan bahwa terbongkarnya aksi cabul tersangka berawal dari tiga orang tua siswa yang melapor ke polisi. Mereka melapor karena anaknya menjadi korban pencabulan tersangka yang diduga mengalami kelainan orientasi seksual.

Dari hasil penyelidikan, polisi menemukan 15 siswa dari tiga sekolah yang berbeda telah menjadi korban pencabulan yang dilakukan tersangka. “Semuanya (korban) laki-laki. Bahkan tidak hanya muridnya, ada satu tetangga tersangka yang juga menjadi korban dan sudah membuat laporan,” terangnya.

Ia mengungkapkan, tersangka melakukan pencabulan dan menyuruh siswanya untuk melakukan perbuatan cabul dengan modus pembentukan tim elit atau tim inti pramuka.

Tersangka menawarkan pada siswanya untuk bisa masuk dalam tim inti dengan cara dites. Bagi yang mau bergabung di tim inti ini, ada tahapan tes yang diberikan oleh tersangka di rumahnya.

Namun setelah korban datang ke rumahnya, mereka malah dicabuli. “Mereka dites secara bergiliran baik individu maupun secara berkelompok,” ungkap Festo.

Selain dicabuli oleh tersangka, para korban juga dipaksa melakukan perbuatan cabul sesama jenis. Tersangka mengaku ia melakukannya untuk mendapatkan kepuasan. Karena itu, polisi akan memeriksa kejiwaan tersangka.

Pelaku dijerat dengan Pasal 80 dan 82 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2016 tentang Perubahan UU RI Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak. Ancaman hukumannya di  atas 15 tahun penjara. (gun/jay)

(sb/rus/jay/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia