Sabtu, 21 Sep 2019
radarsurabaya
icon featured
Iso Ae

Komunikasi di Rumah Macet, Sering Cekcok, Berakhir di Pengadilan

22 Juli 2019, 16: 13: 21 WIB | editor : Wijayanto

Ilustrasi Iso Ae

Ilustrasi Iso Ae (GRAFIS: FAJAR KRISNA)

Share this      

Hubungan rumah tangga akan enak kalau pasangan bisa diajak diskusi. Ya yang namanya diskusi itu termasuk saling berbagi pendapat dan rela menerima masukan dari pasangan. Kalau maunya cuma didengar saja, khotbah Jumat saja sana.

Ismaul Choiriyah-Wartawan Radar Surabaya

Masalah komunikasi yang berujung keretakan rumah tangga, ternyata juga banyak. Salah satunya terjadi pada pasangan Karin, 25, dan Donwori, 28,  ini. Yang baru saja setahun bubar jalan karena diskusi yang tidak pernah ketemu mufakat.

“Gimana mau mufakat kalau pendapat saya gak pernah didengar,” keluh Karin di ruang tunggu Pengadilan Agama (PA) Klas 1A Surabaya, akhir pekan lalu.

Karin menjelaskan, Donwori merupakan tipikal laki-laki otoriter. Lahirnya saja awal tahun 90-an. Namun pola pikirnya seperti pemikiran para penguasa orde baru. Saklek. tidak mau mendengar. Jangan harap masukan dipertimbangkan, mau buka mulut saja langsung dibungkam.

Selama setahun itu pula Karin ngempet, karena dirinya sendiri merupakan perempuan yang vokal. Namun suaranya selalu dianggap sebagai perlawanan. Masalah-masalah sepele yag sebenarnya bisa diomongin bersama sembari mesra-mesraan, juga ditanggapi serius.

Misalnya, sesederhana masalah pemilihan desain rumah. Memang, sejak awal Donwori lah yang memikirkan semuanya. Namun setelah melihat hasilnya, ia bersuara sedikit karena Donwori melewatkan bagian paling urgent, yakni tempat ibadah.

Kalau pikir Karin, namanya rumah, ya harus ada musalanya. Namun, di pikiran Donowori, sembahyang bisa dilakukan di kamar saja karena rumah mereka minimalis.

Ini sih boleh dibilang hal prinsip. Tapi, sebenarnya hal printilan lain seperti warna cat rumah lah, mau punya anak berapa lah, menu setiap harinya apa lah, semua yang menentukan Donwori.

Karin hanya dianggap istri yang sekadar pelengkap dan harus nurut kata-kata suami. “Sering pol wes, cekcok sama suami. Dianya ngengkel, aku ya tambah ngengkel juga,” lanjut Karin.

Terakhir, kata-kata cerai lolos juga dari mulut Donwori. Kali ini yang menjadi pemicunya adalah pekerjaan. Donwori menggebu-gebu ingin pindah kerjaan. Sementara oleh Karin ditahan, karena suaminya ini belum punya serepan. Namun larangan Karin ini dianggap karena ia takut tidak bisa makan kalau Donwori tak kerja.

Bahkan tuduhan ini diikuti kata-kata menohok. Ia menuding selama ini Karin tidak bahagia hidup bersama Dowori. Makanya semua diprotes. Secara sepihak, ia pun menjatuhkan talak. Yang juga langsung diurus oleh Karin. Ia sendiri jadi kehilangan selera melanjutkan pernikahan kalau pasangannya begini.

“Aku urun rembuk demi kebaikan bersama, eh dekne nompone salah. Padahal aslie aku bahagia-bahagia aja sama dia,” tukas perempuan berbehel gigi ini. (*/opi)

(sb/is/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia