Kamis, 14 Nov 2019
radarsurabaya
icon featured
Lifestyle Surabaya

Pameran Batik Lukis Ibarat Musik, Ada Klasik dan Ada R&B

18 Juli 2019, 09: 00: 59 WIB | editor : Abdul Rozack

BERNILAI SENI: Mayang, seorang pengunjung Galeri Paviliun House of Sampoerna Surabaya berswa foto dengan latar belakang batik lukis Jatim yang dipamer

BERNILAI SENI: Mayang, seorang pengunjung Galeri Paviliun House of Sampoerna Surabaya berswa foto dengan latar belakang batik lukis Jatim yang dipamerkan, Rabu (17/7). (ANDY SATRIA/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Batik ibarat musik. Ada musik klasik. Karakternya khas, begitu di dengar langsung bisa disimpulkan bahwa itu klasik. Namun saat ini, ada pop, ada RnB ada rock yang disukai banyak anak muda. “Batik klasik juga sama, sekali lihat kita tahu kalau itu klasik. Warnanya, pakemnya. Tapi juga ada batik kontemporer, yang dibuat bebas, mewakili ekspresi senimannya,” begitu kata seniman batik Pengky Gunawan ditemui dalam pameran Batik Lukis Rona Pesona di Galeri Paviliun Museum House Of Sampoerna Surabaya, Rabu(17/7). 

Ia merupakan satu di antara 11 seniman dari komunitas batik lukis Jawa Timur (Jatim) yang unjuk karya memamerkan batik lukis yang dibingkai di dalam pigora-pigora. Menurut Pengky, membawa batik ke ranah seni merupakan cara untuk mempopulerkan batik. Utamanya kepada mereka yang masih berpikir bahwa batik ketinggalan zaman. Maka dari itulah, seniman-seniman batik lukis Jatim ini menghasilkan karya batik lukis yang baru. Tidak hanya dari teknik pembuatannya, tapi juga dalam motif dan corak yang diunggulkan. 

Maka tak heran dalam pameran ini terdapat batik yang bermotif siluet, abstrak, beberapa menggambarkan perwayangan, hingga sebuah filosofi perkembangan kebudayaan turut dipamerkan. “Sehingga anak-anak muda berpikir, wah ini lho batik. Tidak hanya itu-itu saja. Bisa bermacam gambar dan bentuknya,” ujarnya. 

Seniman yang lain, Prima Klampis menjelaskan, batik lukis ini merupakan perwujudan kesenian yang unik. Meski teknik pelukisannya mengikuti gaya melukis pada umumnya. Seperti pemanfaatan kuas, namun pakem-pakem batiknya tidak ditinggalkan. Proses seperti mencanting, pelapisan malam, hingga pencelupan warna dilakukan normal layaknya membuat batik pada umumnya. “Kita tidak akan pernah mengubah pakem yang ada,” lanjutnya.

Malah dengan ini, ia beserta seniman batik lukis lain berharap, batik tidak hanya selesai pada kebutuhan fashion, sandang. Tapi juga meluas ke ranah seni, yang bisa dinikmati. Dan di pajang di salah satu sudut ruang, dapat dikagumi keindahannya. (is/nur)

(sb/is/jek/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia