Kamis, 22 Aug 2019
radarsurabaya
icon featured
Surabaya

Mengidap Demensia Berat, JCH Asal Malang Gagal Berangkat

16 Juli 2019, 17: 01: 40 WIB | editor : Wijayanto

UTAMAKAN KESEHATAN : Jamaah Calon Haji (JCH) asal embarkasi Surabaya mendapat pemeriksaan yang ketat soal kesehatan sebelum berangkat ke Tanah Suci.

UTAMAKAN KESEHATAN : Jamaah Calon Haji (JCH) asal embarkasi Surabaya mendapat pemeriksaan yang ketat soal kesehatan sebelum berangkat ke Tanah Suci. (RAHMAT SUDRAJAT/RADAR SURABAYA)

Share this      

Surabaya – Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Surabaya hingga hari ke 10 keberangkatan ibadah haji ke tanah suci tahun 2019 telah menunda keberangkatan 11  jamaah calon haji (JCH) Embarkasi Surabaya.

Dari data yang dihimpun Radar Surabaya, dari 11 JCH tersebut, tujuh diantaranya karena sakit, sedangkan dua orang karena mengidap demensia (pikun) dan dua  karena hamil muda.

Menurut Wakil Kepala Bidang Kesehatan PPIH Embarkasi Surabaya, Acub Zaenal, bahwa tujuh orang yang sakit tersebut di rujuk ke Rumah Sakit Haji Sukolilo Surabaya sedangkan yang mengalami demensia di rujuk ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Menur.

“Jamaah tersebut mengalami keluhan penyakit jantung, anemia, hingga hipertensi, kami tunda dulu keberangkatannya ke tanah suci hingga benar-benar dinyatakan sehat sama dokter, sedangkan dua jamaah haji dipulangkan karena hamil muda atau usia dalam kandungannya 14 minggu,” katanya.

Seorang jamaah calon haji (JCH) asal Malang berinisial AH. Kakek 76 tahun itu gagal diberangkatkan ke Tanah Suci karena menderita demensia atau penurunan fungsi otak yang seringkali ditandai dengan pikun dan sulit berpikir.

Selain AH, PPIH juga menemukan JCH dengan kondisi serupa. Dia yakni AF,  asal Probolinggo. Namun berdasarkan pemeriksaan, tingkat demensia yang bersangkutan tidak terlalu parah sehingga dapat diberangkatkan.

Pemulangan JCH ini dilakukan setelah tim kesehatan dari Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kelas I Surabaya merujuk AH ke RS Jiwa Menur. AH dirujuk untuk menjalani pemeriksaan lanjutan serta menentukan gradasi dari demensia atau penyakit pikun yang dialaminya.

Acub menjelaskan, tanda-tanda demensia sebenarnya sudah diketahui sejak AH datang ke Asrama Haji Sukolilo, Minggu (14/7). Saat itu, AH yang berangkat haji seorang diri, tanpa ada pendamping, terlihat selalu gelisah dan tidak tenang. “Setelah diperiksa tenaga Kesehatan Haji Indonesia dan tim KKP diketahui AH menderita demensia. Secara fisik kondisnya sehat, namun pikun,” katanya.

“Kami sampaikan kepada keluarga tentang kondisi AH. Alhamdulillah, pihak keluarga memahami dan sepakat menunda keberangkatan AH hingga tahun depan, sampai kondisinya normal,” tuturnya. Sedangkan yang dari Probolinggo, usianya 73 tahun, dia juga demensia, tetapi ringan. Setelah menjalani perawatan di Klinik Asrama Haji Sukolilo, yang bersangkutan dinyatakan layak dan mampu menjalankan ibadah haji,” jelas  Acub.

Sementara itu untuk JCH yang hamil dengan usia kandungan 14 minggu sebenarnya bukan tidak bisa berangkat tapi tunda sehubungan dengan regulasi usia kehamilan mendekati 14 minggu ditunda maksimal akhir kloter untuk mencapai usia kehamilan yang diperbolehkan.

Dua JCH yang hamil yaitu Herlina Faisal dari kloter tujuh asal Sumenep dan Pipit Handayani dari kloter 18 dari Malang. “Peraturan penerbangan bagi ibu hamil tidak diperbolehkan pada usia kehamilan kurang dari 14-26 minggu, ketika umur kehamilan masih awal dan ditambah sisa hari pelaksanaan pemberangkatan embarkasi tidak mencapai 14 minggu maka tentu akan kita tunda untuk tahun depan,"pungkasnya.(rmt/rak)

(sb/jpg/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia