Senin, 09 Dec 2019
radarsurabaya
icon featured
Surabaya

Terapi Paliatif Paling Tepat untuk Pasien Kanker Stadium Akut

16 Juli 2019, 16: 53: 43 WIB | editor : Wijayanto

Ilustrasi

Ilustrasi (DOK/JPNN)

Share this      

SURABAYA - Terapi paliatif bisa menjadi alternatif pengobatan bagi penderita kanker stadium 4 dengan kondisi akut. Pada kondisi ini, pasien tidak akan mungkin sembuh. Sementara pengobatan dengan terapi kemoterapi maupun radiasi malah semakin memperburuk daya tahan tubuh pasien.

Ketua Masyarakat Paliatif Indonesia, dr. Urip Moertedjo SpB-KL,PGD.Pall.Med(ECU) menjelaskan, hal inilah yang kerap disampaikan oleh Menteri Kesehatan RI, Nila Moeloek. Selama ini, salah satu pengeluaran terbesar BPJS Kesehatan adalah untuk mengobati pasien kanker.

Yang biayanya sangat mahal. Dari pada menghabiskan dana BPJS untuk pengobatan yang sia-sia, sebaiknya pasien kanker dengan kondisi akut ditangani secara paliatif saja. "Bukan kita pesimistis. Namun diobati pun akan sia-sia, malah reaksi obat akan memperlemah daya tahan pasien," jelasnya.

Sebaliknya, jika pengobatan dilakukan secara paliatif, kualitas hidup pasien akan lebih baik. Akibat penyebaran sakitnya, pasien kanker biasanya merasakan nyeri di beberapa bagian tubuh. Dalam terapi paliatif, pasien akan mendapatkan fisioterapi, sehingga dapat mengurangi rasa nyeri yang diderita.

Selain mengurangi rasa nyeri, perawatan fisioterapis juga mampu memberikan kebugatan tubuh pasiennya. Karena fungsi-fungsi gerak juga di latih. Sehingga pasien tidak hanya lemas dan terbaring di tempat tidur.

"Terapi paliatif ini dilakukan untuk mempersiapkan kematian dengan tenang, tanpa rasa sakit ataupun keluhan lain," Imbuhnya. Dokter Urip menjelaskan, terapi model ini sudah banyak dikembangkan di negara maju seperti Malaysia dan Singapura. Mereka maju dalam penyediaan housecase yang digunakan untuk merawat pasien paliatif. Tak hanya untuk pasien, namun juga keluarga.

Dalam terapi ini, spiritual pasien juga akan di tuntun. Dalam perawatan paliatif, juga terdapat volunteer yang menjadi teman bagi pasien. Sehingga tidak mengalami kesepian di akhir hidupnya.

"Dalam terapi paliatif, tidak hanya pasien yang kami beri semangat, namun juga keluarga pasien. Sehingga mereka sama-sama saling mendukung. Tujuannya kembali seperti di atas, mempersiapkan kematian secara dignity," pungkasnya. (is/rak)

(sb/is/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia