Kamis, 22 Aug 2019
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi Surabaya

Harga Garam Anjlok karena Impor dan Permainan Tengkulak

16 Juli 2019, 15: 12: 37 WIB | editor : Wijayanto

Tambak garam di Sidoarjo.

Tambak garam di Sidoarjo. (DOK/JPNN)

Share this      

SURABAYA - Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Jawa Timur (Jatim) Gunawan Saleh mengatakan, harga garam di Jatim anjlok disebabkan karena adanya impor dan permainan dari para tengkulak. Banyaknya stok garam ini membuat garam dari petani tidak bisa tersalurkan. “Sehingga petani mengusulkan untuk tidak impor terlebih dulu. Nah kalau untuk tengkulak ini hanya mau membeli garam petani dengan harga rendah,” ujarnya.

Gunawan menjelaskan stok garam impor di Jatim sisa tahun 2018 lalu masih 900 ton. Sementara itu, diprediksi bulan depan akan ada panen garam mencapai 1.000 ton di Jatim. Sehingga dikhawatirkan memicu harga garam lebih rendah lagi. Harga garam di petani saat ini hanya berkisar Rp 500 per kilogram. Sementara tahun lalu, petani bisa menjual garam antara Rp 750 – 1.000 per kilogram.

“Pemprov Jatim sendiri meminta agar pemerintah pusat menghentikan impor garam. Tujuannya untuk menaikkan harga garam petani lokal di Jatim. Saat kita cek ke pabrik harga bagus. Karena saat ini harga jatuh di tengkulak,” jelasnya.

Sementara itu anggota Komisi B DPRD Jatim Zainul Lutfi mengatakan, terkait impor garam selalu terjadi tiap tahun. Pasalnya, hingga saat ini belum ada solusi konkret untuk meningkatkan kuantitas maupun kualitas garam lokal. “Mau tidak mau, dampak masalah impor akan berhubungan langsung untuk masyarakat. Potensinya, 5-10 tahun akan begini terus,” katanya. 

Lutfi juga akan memastikan data yang digunakan sebagai dasar impor tersebut. Menurutnya, konstruksi program seharusnya berbasis data. “Kalau data salah, maka programnya pun salah. Untuk itu, data tersebut perlu dipastikan,” jelasnya.

Data yang dimaksud Lutfi adalah defisit garam industri yang mencapai 2,7 juta ton. Dari kebutuhan 3,8 juta ton per tahun. Produksi garam lokal disebut baru mencapai 1,1 – 1,2 juta ton. “Sebab, garam industri (dari impor, Red) itu seringkali luber ke pasaran. Sehingga, bukan sekadar data BPS, namun harus ada data pendamping. Misalnya, data dari kampus,” ungkapnya.  

Selain itu, pemerintah juga harus menyiapkan solusi konkret untuk meningkatkan kualitas garam agar memiliki kualitas setara dengan garam luar. Menurutnya, peran pemerintah ke depan ada dua. “Dalam jangka panjang, harus ada pembinaan agar kualitas garam bisa masuk industri. Jangka pendeknya, pemerintah harus bisa membuat harga stabil kembali,” ujarnya.

Diketahui, tahun ini pemerintah memutuskan mengimpor 2,7 juta ton garam untuk kebutuhan industri. Impor sebanyak itu dilakukan pemerintah untuk mencukupi kebutuhan garam nasional yang mencapai 3,8 juta ton. Impor tersebut cenderung meningkat dibanding tahun sebelumnya, terlihat pada 2017 mencapai 2,55 juta ton. Kemudian, impor pada 2018 naik menjadi sebesar 2,72 juta ton dan 2,72 juta pada 2019. (mus/nur)

(sb/mus/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia