Kamis, 22 Aug 2019
radarsurabaya
icon featured
Surabaya

Masa MPLS, Siswa SMA Berseragam SMP

16 Juli 2019, 12: 54: 42 WIB | editor : Wijayanto

SERAGAM LAMA: Para siswa baru SMAN 9 Surabaya mengenakan seragam SMP saat mengikuti MPLS, Senin (15/7).

SERAGAM LAMA: Para siswa baru SMAN 9 Surabaya mengenakan seragam SMP saat mengikuti MPLS, Senin (15/7). (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Sekitar 360 siswa baru SMA Negeri 9 Surabaya kemarin (15/7) menjalani Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Dari pantauan Radar Surabaya di lokasi, hampir 90 persen siswa baru yang berlatih baris-berbaris ini masih menggunakan seragam SMP.

MERAIH TROFI: Para siswa baru saat mengikuti pembukaan MPLS di SMPN 3 Surabaya, Senin (15/7).

MERAIH TROFI: Para siswa baru saat mengikuti pembukaan MPLS di SMPN 3 Surabaya, Senin (15/7). (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

Para siswa baru terpaksa memakai seragam SMP karena seragam SMA yang bahannya didapat dari sekolah belum selesai dijahit. Salah seorang orang tua siswa, Irawati, kemarin datang ke sekolah untuk mengambil seragam anaknya. Warga Gubeng Kertajaya ini mengaku harus membayar Rp 2.275.000 untuk membayar seragam.

“Anak saya kebetulan masuk melalui jalur zonasi. Jadi, memang harus beli seragam di Koperasi Sekolah. Setahu saya yang dapat seragam gratis itu yang melalui jalur mitra warga,” ujarnya kepada Radar Surabaya, Senin (15/7).

Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas SMAN 9 Surabaya Sonnyk Sumarsono memberikan toleransi kepada siswa baru untuk menggunakan seragam SMP jika seragam belum selesai dijahit. Ia membenarkan kalau seragam itu berasal dari Koperasi Sekolah dan dikenakan biaya. “Tidak ada batas waktu kapan harus menggunakan seragam (SMA). Kita tahu penjahit saat ini sedang ramai orderan,” katanya.

Saat ditanya terkait seragam gratis, Sonny justru mengaku tidak tahu. Dari pengalaman tahun-tahun sebelumnya, menurut dia, bantuan seragam gratis itu turun setelah tiga sampai delapan bulan tahun ajaran baru.

“Jadi, seragam itu sejak awal siswa harus membeli. Biasanya yang bantuan itu warnanya tidak sama dengan sekolah, sehingga banyak siswa yang tidak mau dan akhirnya disumbangkan ke Liponsos,” jelasnya.

Wakil Ketua Komisi E DPRD Jawa Timur Suli Daim membenarkan adanya pembelian seragam yang dilakukan sekolah melalui koperasi. Meski demikian, dia menyayangkannya. “Padahal, siswa SMA/SMK ini mendapat seragam gratis yang seharusnya diterima saat daftar ulang. Tujuannya untuk meringankan beban wali murid saat menghadapi tahun ajaran baru. Dan, ini sudah dianggarkan oleh Pemerintah,” katanya.

PESAWAT CITA-CITA

Suasana halaman SMP Negeri 3 Surabaya tampak riuh pada Senin (15/7) pagi. Ada ratusan siswa baru yang siap mengikuti prosesi penyambutan dengan mengenakan jas dokter, kaos pemain bola, kaos TNI, bahkan atribut wali kota.

Para siswa kelas VII ini memang diminta untuk memakai pakaian yang merepresentasikan cita-cita mereka di upacara pembukaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). "Sejak kecil setiap anak pasti memiliki cita-cita. Dan, ketika memasuki jenjang SMP cita-cita tersebut mulai diteguhkan, dimantapkan, agar dapat diwujudkan saat kelak dia dewasa," jelas Kepala SMPN 3 Surabaya Budi Hartono kepada Radar Surabaya.

Selain diminta memakai pakaian yang melambangkan cita-cita, pihak sekolah juga sudah menyiapkan replika piala setinggi dua meter di tengah lapangan. Menurut Budi, replika piala itu terinspirasi dari piala milik legenda bulu tangkis Rudi Hartono. Rudi sendiri merupakan lulusan SMPN 3 Surabaya.

"Rudi Hartono merupakan alumni kita dan mampu meraih juara All England 8 kali berturut-turut. Prestasinya hingga kini belum ada yang mampu menandingi. Prestasinya diharapkan dapat memotivasi siswa dalam mewujudkan cita-cita," imbuh Budi.

Usai mengikuti upacara pembukaan MPLS 2019, 400 siswa baru yang terbagi dalam sembilan gugus itu lantas melakukan seremonial penerbangan pesawat kertas ke dalam replika piala. Prosesi penerbangan pesawat kertas itu memiliki filosofi agar anak-anak bisa mendaratkan impian mereka di tempat tertinggi.

Upacara tersebut juga dihadiri wali murid. Kehadiran mereka dikatakan Budi sebagai bentuk dukungan dan tanggung jawab orangtua terhadap pendidikan anak-anaknya. (rmt/rek)

(sb/jpg/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia