Minggu, 15 Dec 2019
radarsurabaya
icon featured
Features Sidoarjo
Petrus Taufan Asmara, Barista dari Sidoarjo

Fokus Bisnis Kopi dan Latih Calon Barista

16 Juli 2019, 01: 22: 31 WIB | editor : Wijayanto

PAKAR ARABIKA: Petrus melatih salah satu barista meracik dan membuat kopi yang nikmat.

PAKAR ARABIKA: Petrus melatih salah satu barista meracik dan membuat kopi yang nikmat. (RIZKY PUTRI PRATIMI/ RADAR SURABAYA)

Share this      

Petrus Taufan Asmara tak pernah membayangkan menjadi seorang ahli kopi arabika bersertifikasi Internasional. Belajar dari sang mentor Michael Gibbon, seorang barista dari Australia. Kini kemampuannya di bidang kopi diakui dunia.   

Rizky Putri Pratimi-Wartawan Radar Sidoarjo

Jalan berliku dilalui Petrus sebelum menjadi barista handal saat ini. Di masa muda, dia pernah membuka usaha jual peralatan dapur dan selama tiga tahun mencoba bisnis burung kicau hias di pasar Larangan. Namun, tidak membuahkan keuntungan yang lebih. Beralih menjadi salesman mobil, dan tak bertahan lama. Dia merasa hal tersebut bukanlah passion-nya.

Di tahun 2008, dia membaca lowongan menjadi bartender minuman non alkohol di salah satu surat kabar. Tapi begitu masuk, dia tidak sepenuhnya menjadi bartender, merangkap sebagai staff supplier sirup.

Setelah itu dia banyak teman dan relasi pecinta kopi. Petrus mulai dan teman-temannya banyak sharing tentang kopi. Setelah menjalani dua tahun jadi supplier, datanglah penawaran menjadi asisten barista di sebuah hotel pada tahun 2010.

Kala itu, Michael Gibbon seorang barista handal dari Australia adalah atasan Petrus saat bekerja di salah satu hotel. Selama menjadi asisten Michael, Petrus mendapat banyak ilmu cara meracik berbagai macam kopi. Hingga timbul niatan, secara pribadi Petrus ingin diajari Michael bagaimana meracik kopi yang enak.

Michael menolak, sebab selama Petrus menjadi asistennya, secara tidak langsung Michael sudah menyalurkan semua ilmunya pada Petrus. “Saya dites bikin salah satu jenis kopi dan kata Michael ternyata enak,” kenangnya.

Suatu ketika, Michael kembali ke Australia. Petrus diangkat menjadi barista utama di tahun 2011. Di tahun yang sama, dia  menyelenggarakan coffe art Arabika. Sejak itu, dia mulai punya nama. Semakin dipandang oleh barista kopi ternama di lokal dan mancanegara. “Dulu saya undang Michael, tapi dia berhalangan hadir,” kata pria kelahiran Sidoarjo 8 Maret 1973.

Sambil bekerja menjadi barista kepala, di tahun 2013 Petrus melebarkan sayap membuka brand coffee kemasan, coffee Java Lovasa, khusus kopi arabika yang diambil dari Gayo, Bali dan Jawa dan Kopi Mbak Mira untuk kopi robusta.

“Lovasa nama anak, Mira nama istri saya,” ujarnya sembari tersenyum. Dan di tahun 2015 memutuskan membuka coffee shop sendiri. Saat itu, menjadi tempat ngopi dengan alat terlengkap di Jawa Timur.

Dia juga beli mesin roasting dari Jerman buatan 2016, di Jawa Timur. Mesin tersebut hanya dimiliki enam orang di Jawa Timur.

Kecintaannya pada kopi membawanya mengejar Sertifikasi Grader atau orang yang berhak menilai kopi arabika.

Tetapi, saat ini, Petrus fokus menyalurkan ilmu dengan kursus secara privat. Hingga saat ini, sudah puluhan barista ternama pernah merasakan tanggan dingin Petrus. “Sekali pertemuan, maksimal empat jam. Diajari pengenalan biji kopi, proses dan alat-alat pembuatan kopi, serta mengolah minuman dingin lainnya,” pungkasnya. (*/nis)

(sb/jpg/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia