Selasa, 20 Aug 2019
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi Surabaya

Properti Lesu, Industri Baja Kena Dampaknya

16 Juli 2019, 00: 12: 29 WIB | editor : Wijayanto

Ilustrasi

Ilustrasi (DOK/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Permintaan baja tengah mengalami kelesuan. Selama semester pertama ini kinerja industri tersebut menurun lebih dari 10 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Faktor utamanya yaitu akibat melemahnya sektor properti, sehingga berdampak pada berkurangnya demand baja.

Hal ini disampaikam Ketua Klaster Baja Lapis Aluminium Seng Asosiasi Industri Besi dan Baja Indonesia (The Indonesia Iron and Steel Industry Association/IISIA) Henry Setiawan. Menurutnya, selain segmen properti, hal lain yang berpengaruh terhadap melemahnya bisnis baja yaitu faktor cuaca, banyak hari libur, hingga momen pilpres.

Karena ternyata banyak masyarakat yang menahan untuk spending money berlebih ketika momentum tersebut. "Tidak dipungkiri bahwa permintaan baja domestik, terutama baja lapis, banyak berasal dari perumahan dan industri yang dimanfaatkan untuk pembangunan gudang serta pabrik. Kalau ekonomi lesu otomatis cukup berdampak terhadap pembangunan," ujarnya.

Adapun produk yang mendominasi penjualan baja lapis adalah yang berjenis rangka atap yang biasanya digunakan dalam pembangunan rumah tapak atau landed house. Pihaknya berharap permintaan baja pada semester dua atau setidaknya mulai bulan ini bisa segera pulih. Seiring dengan dimulainya proyek-proyek pembangunan dan inovasi rumah yang dilakukan masyarakat.

Sementara itu, di tengah bisnis baja yang kurang bergairah, ternyata ada tantangan lain yang sedang dihadapi oleh industri ini. Yaitu maraknya impor baja dari Tiongkok dan Vietnam. Jumlah impor baja di Indonesia mencapai 6-7 juta ton tiap tahunnya. Sedangkan kapasitas produksi baja domestik juga berada di angka yang sama, yaitu 7 juta ton per tahun. "Memang Januari lalu pemerintah telah mengeluarkan Permendag 110 untuk menekan impor baja, tapi nyatanya sampai sekarang belum berdampak signifikan," terang Henry.

Oleh sebab itu, kini pelaku industri sedang menunggu tindak lanjut Kementerian Keuangan (Kemenkeu) untuk merevisi Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 110 Tahun 2018 tentang Ketentuan Impor Besi atau Baja, Baja Paduan, dan Produk Turunannya.

"Kami sangat berharap Kemenkeu bisa segera mengeluarkan peraturan menteri keuangan (PMK) yang mengatur bea cukai agar menjalankan tugas dari Permendag 110/2018 dalam hal pengawasan kegiatan impor di pelabuhan. Sehingga bea cukai punya landasan kuat dalam bekerja. Kalau sekarang bea cukai belum bisa melakukan tugasnya dengan benar karena belum ada aturannya," tegas Henry.

Menurutnya, Kemenko Perekonomian harus mensinergikan Kemendag, Kemenkeu, Kemenperin, dan lembaga terkait lainnya dalam hal pembatasan impor besi dan baja. "Karena ini berdampak ke semua jenis industri baja," katanya. (cin/nur)

(sb/cin/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia