Kamis, 22 Aug 2019
radarsurabaya
icon featured
Lifestyle Surabaya

Jangan Ditiru, Memplester Mulut Saat Tidur Bisa Berbahaya

15 Juli 2019, 23: 53: 54 WIB | editor : Wijayanto

Ilustrasi

Ilustrasi (NET)

Share this      

SURABAYA - Beberapa kali, penyanyi tanah air, Andien, membawa tren baru melalui akun Instagram. Kali ini bukan tentang parenting. Namun tentang buteyko breathing atau memplester mulut ketika tidur. Yang rupanya tidak dianjurkan oleh dokter spesialis telinga, hidung dan tenggorokan (THT).

Disampaikan oleh dokter spesialis THT-bedah kepala dan leher, dr Achmad Chusnu Romdhoni, Sp.THTKL (K), butheyko breathing bisa berbahaya jika dilakukan oleh orang awam.

Utamanya bagi orang yang memiliki masalah pada gangguan pasase udara melalui hidung. Seperti pilek alergi, atau hidung bengkok yang keluhannya buntu hidung.

Pada orang dengan kondisi seperti ini, satu-satunya jalan nafas adalah melalui mulut. Jika mulut di plester, maka udara tidak bisa masuk. Dan malah memperparah kondisi. "Kalau diplester mulutnya, malah bisa menjadi hipoksia atau kekurangan pasokan oksigen ke tubuh, khususnya otak," terangnya. 

Jika hal ini terjadi, maka dampaknya akan berbahaya. Karena dapat mengganggu fungsi organ vital lain, seperti fungsi hati. Terlebih otak yang tugasnya mengendalikan seluruh tubuh. 

Saat bernafas, udara akan mencari jalannya sendiri untuk masuk. Mana yg lebih nyaman, bisa lewat mulut maupun hidung. Jika hidung bermasalah, dengan sendirinya mereka akan masuk melalui mulut. “Hal ini jadi salah satu penyebab orang tidur dengan mulut terbuka,” imbuhnya.

Sebagai dokter THT, Ahmad sendiri belum faham mengapa metode ini bisa muncul. Karena menurutnya, butheyko breathing tidak memiliki banyak manfaat seperti yang disebutkan oleh selebritis, influencer, atau pihak pembawa metode ini lewat media sosial mereka. 

Misalnya, disebutkan butheyko mampu membuat tidur lebih nyenyak (deep sleep). Ia membenarkan, bernafas melalui hidung dapat membuat tidur lebih nyaman. Tapi tidak serta merta akan memperoleh tidur nyenyak. Karena ada beberapa faktor pendukung lain. Di antaranya otak yang rileks dari stres, pun dengan cahaya. 

Selain itu, disebutkan dengan mulut di plester akan mengurangi mengorok. Faktanya, untuk menghentikan mengorok tidak cukup dengan menutup mulut saat tidur. Kalau hidung tidak lancar nafasnya, sehingga koordinasi menelan dan bernafas menjadi susah.

Pun dengan pernyataan tidur dengan mulut terutup akan memperbaiki anatomi wajah seperti rahang. "Tidak semudah itu merevisi kelainan anatomis rahang," jelas dokter yang berpraktek Rumah Sakit Mitra Keluarga Kenjeran ini. 

Satu manfaat dari butheyko breathing yang ia benarkan yaitu, dapat meminimalisir batuk dan mencegah tenggorokan kering. Saat bernafas lewat hidung, udara akan melalui tahap penyaringan, dihangatkan dan dilembabkan. Sebaliknya, jika melalui mulut, serangkaian proses itu tidak dilakukan. Dampaknya, batuk-batuk, tenggorokan kering yang efeknya mulut akan bau saat bangun. (is/nur)

(sb/is/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia