Senin, 09 Dec 2019
radarsurabaya
icon featured
Surabaya

Pemerintah Ganti Gelang Berwarna dengan Kartu Kesehatan Jamaah Haji

15 Juli 2019, 23: 42: 27 WIB | editor : Wijayanto

LEBIH MEMUDAHKAN: Salah satu JCH yang terdapat penanda risti di KKJH miliknya.

LEBIH MEMUDAHKAN: Salah satu JCH yang terdapat penanda risti di KKJH miliknya. (RAHMAT SUDRAJAT/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Ada yang berbeda dalam penyelenggaraan haji tahun 2019, yakni mengganti gelang berwarna penanda status kesehatan jamaah calon haji (JCH) berisiko tinggi (risti) dengan kartu kesehatan jamaah haji (KKJH).

Dari pantauan Radar Surabaya di Asrama Haji Sukolilo, JCH Embarkasi Surabaya tidak menggunakan gelang berwarna penanda kesehatan, namun menggunakan KKJH yang digantungkan di leher masing-masing JCH. 

Menurut Wakil Kepala Bidang Kesehatan Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Surabaya Acub Zaenal, saat ini kebijakan penanda risti yang dahulu menggunakan gelang sudah diganti dengan warna orange atau jingga yang ada di KKJH tiap JCH.

Namun untuk JCH yang di KKJH-nya tidak ada warna orange atau tanpa warna, berarti JCH tersebut dinyatakan sehat. Tanpa harus melihat gelang, sudah bisa dilihat JCH mana yang risti dengan melihat KKJH.

"Tahun ini Kemenkes (Kementerian kesehatan, Red) tidak lagi memberikan gelang kesehatan dengan tiga warna, yakni  merah, kuning dan hijau sebagaimana tahun sebelumnya. Penanda bagi JCH kini berupa KKJH yang disertai penanda risti dalam bentuk kotak berwarna orange,” katanya.

Pada KKJH tersebut juga terdapat barcode (kode batang) dan kode QR. “Barcode menjadi kode berisi akses data-data kesehatan JCH pada Siskohatkes yang terintegrasi dengan Siskohat Kementerian Agama. Inovasi tersebut sangat membantu, mengingat Indonesia memiliki jumlah jamaah haji terbesar di dunia,” terangnya.

Acub menambahkan, ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan mengganti gelang dengan KKJH. Pertama gelang konsekuensinya harus mengindentifikasi lagi apakah dia masuk dalam kategori, merah, kuning, atau hijau, yang tergantung dengan jenis risti dan kondisi usia.

Sering terjadi di lapangan, meniliti satu persatu JCH itu tidak mudah. Kemudian yang kedua sangat memudahkan tenaga kesehatan untuk fokus kepada JCH dengan warna orange. “Jadi tidak perlu lagi untuk mengingat apa itu ya warna kuning, merah, atau hijau,” ungkapnya.

Untuk petugas kesehatan setiap kloter yang terdiri dari 445 JCH akan di dampingi tiga petugas kesehatan yang terdiri dari satu dokter dan dua paramedis dan di Embarkasi Surabaya terdapat 85 kloter.

“Petugas kesehatan tersebut akan mendampingi dan memantau pergerakan jamaah Embarkasi Surabaya selama keberangkatan, dan saat berada di tanah suci hingga kembali ke tanah air (Indonesia),” jelasnya. (rmt/nur)

(sb/jpg/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia