Selasa, 20 Aug 2019
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi Surabaya

Pasar Domestik Industri Furnitur Menggeliat, Ekspor Justru Menurun

15 Juli 2019, 23: 14: 40 WIB | editor : Wijayanto

PERSAINGAN KIAN KETAT: Meskipun permintaan domestik furnitur terus meningkat, akan tetapi kinerja industri masih didominasi permintaan ekspor.

PERSAINGAN KIAN KETAT: Meskipun permintaan domestik furnitur terus meningkat, akan tetapi kinerja industri masih didominasi permintaan ekspor. (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Peluang industri furnitur tanah air terus berkembang sejalan dengan persaingan binisnya yang semakin ketat. Oleh sebab itu, pelaku usaha maupun ritel yang bergerak di bidang furnitur dituntut untuk terus melakukan inovasi demi mengambil hati konsumen. Salah satunya dengan rutin menghadirkan inspirasi atau konsep-konsep baru untuk hunian masyarakat.

Store Manager Informa Tunjungan Plaza 6 Surabaya Reda Bayunda mengatakan, pertumbuhan penjualan furnitur di area Surabaya masih hcukup baik. Bahkan tahun lalu pihaknya berhasil mencatatkan pertumbuhan sekitar 8 persen dibanding tahun sebelumnya.

Menurutnya, penyumbang terbesar terhadap sales berasal dari golongan living room dan dining room seperti sofa, meja, dan kursi makan. Adapun pendorong Informa mampu membukukan pertumbuhan yang cukup baik karena pihaknya memiliki store yang berkonsep.

Yakni barang-barang yang didisplai oleh Informa telah dipadupadankan sedemikian rupa dengan berbagai aksesoris demi memunculkan sebuah konsep ruangan yang pas. Sehingga dapat memberi inspirasi bagi konsumen tentang style dan tren furniture saat ini.

Melalui inovasi seperti itu, pihaknya menargetkan mampu meraih pertumbuhan penjualan sampai 25 persen sampai akhir tahun ini. Sejauh ini pelanggan Informa didominasi oleh end user sebanyak 90 persen. Sisanya diisi segmen komersil seperti pengusaha kafe.

Terpisah, Ketua Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Jawa Timur Nur Cahyudi mengatakan, selama ini kinerja bisnis furnitur Jatim masih didominasi oleh ekspor ketimbang domestik. Kontribusinya sebesar 70 persen.

"Pasar terbesar mebel Jatim diperoleh dari Amerika Serikat sekitar 50 persen, lalu Eropa 30 persen. Sisanya didapat dari negara kawasan Asean, Timur Tengah, dan Australia," tegasnya.

Pada triwulan pertama ini ekspor furnitur Jatim mengalami penurunan 26 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Salah satu penyebabnya adalah sebagian besar importir di luar negeri tidak lagi memesan dari Indonesia, khususnya Jatim. Tetapi telah mengalihkan pesanannya ke Vietnam karena dinilai lebih murah dan memiliki kualitas yang bersaing. (cin/nur)

(sb/cin/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia