Senin, 09 Dec 2019
radarsurabaya
icon featured
Iso Ae

Rela Dicerai Agar Anak Disayang Mertua

14 Juli 2019, 05: 05: 59 WIB | editor : Wijayanto

Ilustrasi Iso Ae

Ilustrasi Iso Ae (GRAFIS: FAJAR KRISNA)

Share this      

Donwori, 38, mungkin bisa disebut pria paling legowo. Dia rela mundur jadi suami Karin,31, semata agar anaknya bisa diterima. Oleh mertua yang benci setengah mati kepadanya, juga keturunannya. 

Ismaul Choiriyah-Wartawan Radar Surabaya

Kata Donwori, inilah keputusan yang terbaik yang bisa ia ambil. Bukan karena ia pria lemah yang tak yakin bisa membesarkan anak. Namun, ia yakin kalau tinggal dengan mbahnya, hidup anaknya akan lebih sejahtera. 

Seperti hubungan mertua dan mantu kebanyakan. Hubungan Donwori dengan orang tua Karin, sebut saja Mira, memang tak baik. Sejak awal, ia tak diterima di keluarga Karin. Masalahnya apa lagi kalau bukan harta. Kalau saja Karin tak hamil duluan dan keluarga Karin kebal malu, mungkin ia juga tak bisa menikahi Karin.

Namun karena tergolong pengusaha terpandang di lingkungannya, keluarga Karin berusaha langsung menutupi dengan menikahkan keduanya. Sebelum semua orang tahu bahwa Karin telah hamil di luar nikah. 

Donwori pikir, setelah sah, ia akan diterima. Namun itu hanya di angan-angan Donwori. Karena selama menjadi mantu, tak sekali pun Donwori dianggap ada. Meski satu rumah sendiri. "Orang cilik, Mbak. Malu mereka punya mantu yang gak punya pangkat," ungkapnya. 

Donwori menjelaskan, sejak pacaran pun, berulang kali hubungannya dipisahkan dengan Karin. Beberapa kali ia didatangi ayah Karin agar menyerah mendekati Karin. Karin juga sempat ditahan di rumah. Bahkan dijodohkan dengan laki-laki yang lebih menyilaukan jika dipandang. Namun, hal itu tidak mematahkan cinta dua sejoli ini. 

Karena benci dengan bapaknya inilah, anak Karin dan Donwori juga jadi sasaran. Sejak kecil, anaknya ini diperlakukan kasar oleh neneknya sendiri. Masih usia empat tahun yang belum mengerti apa-apa saja, dibentaki oleh neneknya. Belum lagi kalau melakukan kesalahan, si cucu akan diolok-olok. Berhari-hari. 

"Mesakne kadang, Mbak. Arek cilik wis diwara mbahe dewe, anak haram. Dijijik-jijikno. Sing sering disalah-salahno. Jare, ‘gara-gara bapakmu hidupe mamamu gak mulyo’, " lanjut pria asal Mojokerto ini. 

Belum lagi urusan sehari-hari. Sesimpel makan atau haus. Jika tidak Karin yang mengurusi, si mbah yang sehari-harinya di rumah ini juga tak pernah mengurus. Sepulang dari sekolah TK, anaknya juga tak akan makan jika Karin belum pulang. Mengambilkan makanan, pun juga seragam. Mira tak pernah berinisiatif untuk mencopot seragam cucunya sendiri. Jadi menunggu Karin istirahat makan siang dari tempat kerjanya untuk mengurus anak. 

Gara-gara nelangsa melihat nasib anaknya, Donwori memilih jalan perceraian. Ya barangkali, nanti kalau cerai, neneknya bisa lebih peduli. Dan menganggap anaknya layaknya cucu sendiri. Ia akan lebih bahagia tidak ngumpul dengan anak asalkan masa depan anaknya jelas. Tidak disia-sia mbahnya seperti ini. 

"Kalau ikut aku, bisa apa dia. Kalau sama mbahnya, mau sekolah model apa, ya bisa dia. Biar gak kayak aku gedenya," pungkasnya ditemui di warkop dekat Pengadilan Agama (PA) Klas 1A Surabaya, kemarin (12/7) sebelum Jumatan. (*/opi)

(sb/is/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia