Senin, 09 Dec 2019
radarsurabaya
icon featured
Surabaya

Atasi Kepadatan Makam di Surabaya, Pemkot Siapkan 3 Hektar Lahan

13 Juli 2019, 13: 22: 50 WIB | editor : Wijayanto

TERAWAT: Pekerja menyiram bunga di makam yang ada di lokasi Taman Pemakaman Umum (TPU) Keputih, Surabaya.

TERAWAT: Pekerja menyiram bunga di makam yang ada di lokasi Taman Pemakaman Umum (TPU) Keputih, Surabaya. (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya akan memperluas tempat pemakaman umum (TPU) di beberapa wilayah, diantaranya yang berada di kawasan Warugunung, Babat Jerawat, Pakal, dan Keputih. Selama ini kebutuhan makam di Surabaya terus meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk.

Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya, Eri Cahyadi, menyebutkan, untuk perluasan TPU, pemkot akan menyiapkan tanah seluas sekitar 3 hektare. Terkait hal itu, pemkot hingga saat ini masih menentukan wilayah mana saja TPU yang perlu diperluas.

“Kalau total ya sekitar 3 hektar, karena dianggaran yang ada di Bappeko itu tertulis pembebasan untuk makam, gitu saja. Kalau pembebasan itu bisa dilakukan ke tempat lainnya, tidak mesti Warugunung,” kata Eri.

Terkait pembebasan lahan untuk makam, saat ini Pemkot masih melakukan pengecekan lokasi. Selain itu, nantinya juga akan melihat dari segi urgensi lokasi mana saja yang menjadi prioritas utama. “Babat Jerawat, Pakal itu kan banyak penduduknya, sehingga nanti disana yang kita perlebar. Karena disana juga sudah ada makamnya,” tambahnya.

Eri menjelaskan, lahan makam yang akan digunakan nantinya berupa fasilitas umum (fasum) dari salah satu perusahaan dan diberikan kepada pemkot. Selain itu, saat ini pihaknya masih melakukan mapping lokasi mana saja yang kiranya bisa digunakan untuk TPU. “Ini masih kita deteksi, sebenarnya ada berapa luasan makam yang dibutuhkan pemkot. Kira-kira ini masihan, belum fix,” jelasnya.

Ia mengungkapkan, di Jalan Jurang Kuping, Benowo, ada lahan fasum yang sudah diberikan kepada Pemkot. Fasum yang diserahkan kepada pemkot nantinya tidak disatukan dengan makam kawasan Babat Jerawat. “Ya nanti kira-kira tahun ini penetuan berapa luas makam yang di butuhkan, dan wilayah mana saja TPUnya,” pungkasnya.

Sementara itu, Anggota Komisi A DPRD Surabaya Adi Sutarwijono mengatakan agar lahan makam tidak semakin menumpuk dan penuh agar segera dilakukan penambahan lahan. Selain itu, juga harus diimbangi dengan peraturan daerah (perda) yang sesuai agar lahan makam masih bisa mencukupi kebutuhan masyarakat.

Selama ini yang tertulis di Perda Nomor 13 tahun 2003 pasal 5 ayat 1 jarak baris antara makam di pemakaman umum berukuran 50 cm. Menurutnya, jarak tersebut terlalu banyak ruang yang tersisa. “Kalau makam-makam kampung itu memang sudah penuh. Kita setiap tahun ada anggarannya untuk menambah lahan-lahan makam di Surabaya,” kata Adi yang biasa disapa Awi ini.

Selain itu, dalam aturan perda tersebut Awi menjelaskan, makam satu dengan lainnya tidak boleh dilakukan kijing (hiasan) di petak makam. Sebagaimana diatur dalam pasal 6 ayat satu. Dimana setiap petak makam diberi tanda batu nisan berbentuk trapesium dengan ukuran tinggi bagian atas tanah 20 cm dan 10 cm.

Sedangkan yang tertanam di dalam tanah 15 sentimeter dengan lebar 40 cm dan panjang 50 cm. Untuk plakat nama nisan bertuliskan nama, tanggal lahir dan tanggal kematian. “Ya agar tidak penuh setiap makam tidak boleh dikijing, harus menggunakan tanda yang sesuai dengan perda. Cukup pakai batu nisan,” pungkasnya. (*/rud)

(sb/gin/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia