Minggu, 08 Dec 2019
radarsurabaya
icon featured
Hukum & Kriminal Gresik

Sidang Kasus Penipuan Caleg Nasdem, Keterangan Saksi Beratkan Mahmud

13 Juli 2019, 13: 03: 38 WIB | editor : Wijayanto

TERDIAM: Terdakwa Mahmud hanya bisa diam saat jalanai sidang di PN Gresik

TERDIAM: Terdakwa Mahmud hanya bisa diam saat jalanai sidang di PN Gresik (YUDHI DWI ANGGORO/RADAR GRESIK)

Share this      

GRESIK - Sidang dugaan penggelapan dan penipuan dengan terdakwa Caleg terpilih Nasdem Mahmud, 54, terus bergulir di Pengadilan Negeri (PN) Gresik. Dalam sidang kali ini, Jaksa Penuntut Umum (JPU) menghadirkan sejumlah saksi. Dalam kesaksiannya, seluruhnya memberatkan terdakwa Mahmud.

Saksi-saksi tersebut yakni, Agus Sulistiyo yang menjabat HRD di PT BSB serta sebagai pelapor, Andik Siswanto sebagai Direksi, dan Kastar sebagai makelar juga mantan Kepala Desa Purwodadi, Sidayu Gresik.

Agus Sulistiyo HRD PT BSB kepada majelis hakim yang dipimpin Putu Gede Hariadi mengatakan awalnya ia diberi tugas oleh PT Bangun Sarana Baja (BSB) untuk mencari lahan sekitar 50 hektare di desa Banyuurip, Kecamatan Ujungpangkah-Gresik.

"Saya kenal dengan terdakwa melalui H. Kholik, pada tahun 2012 silam. Waktu itu, terdakwa menjabat sebagai kepala desa Banyuwangi. Selang beberapa bulan kemudian, terdakwa menemukan lahan yang diharapkan oleh PT BSB di desa Banyuurip," bebernya.

Pada tahun 2013 lanjut Agus, harga permeternya disepakati oleh PT BSB sebeser Rp 180 ribu. Kami pun membuat konsep untuk membuat surat perjanjian antara PT BSB dengan terdakwa.

"Surat perjanjian, lalu didaftarkan ke notaris Kamilia dan ditanda tangani oleh pihak PT BSB dengan terdakwa dihadapan notaris. Setelah didaftarkan, kami melakukan pembayaran setiap bulan," jelasnya.

Mendengar kabar yang tidak sedap dari makelar tanah yakni Kastar, bahwa ia belum diberi uang oleh terdakwa untuk melakukan pembayaran pada petani. Lalu manajemen PT BSB menghentikan secara sepihak pembayaran jual beli tanah pada terdakwa.

"Pada Bulan 10 tahun 2014 kami melanjutkan melakukan pembayaran sampai bulan 12. Namun pada januari 2015 ada penarikan berkas dari notaris oleh sang makelar. Total yang dikeluarkan oleh PT BSB sejak tahun 2014 sampai januari 2015 sebanyak Rp 15,3 Miliar," ucapnya.

Sementara Kastar selaku makelar mengatakan, bahwa ia menerima uang dari terdakwa sebesar 3,4 Miliar. Uang tersebut sudah saya serahkan pada pihak petani untuk pembelian lahan tanah.

Berbeda dengan saksi yang lain yakni Rodiah selaku makelar mengatakan, awalnya ia menggunakan uang pribadi untuk pembebasan lahan senilai Rp 2,8 Miliar. Sebab, Mahmud tidak mengeluarkan uang sama sekali.

"Karena 6 bulan tidak dibayar akhirnya, berkas-berkas tanah saya tarik kembali," kata Rodiah , 56 , warga Banyuurip Ujungpangkah saat menjadi saksi persidangan hingga pukul 20.30 WIB. (yud/rof)

(sb/yud/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia