Minggu, 08 Dec 2019
radarsurabaya
icon featured
Lifestyle Surabaya

Sarung Tangan Infus untuk Kenyamanan Pasien Anak-anak

12 Juli 2019, 16: 06: 19 WIB | editor : Wijayanto

SARUNG INFUS: Dari kiri, Riskiyatul, Finka Yuanita  dan Putri Lisdiyanti, mahasiswa studi Keperawatan Unmuh Surabaya, menunjukkan cara kerja sarung tangan infus untuk anak-anak.

SARUNG INFUS: Dari kiri, Riskiyatul, Finka Yuanita dan Putri Lisdiyanti, mahasiswa studi Keperawatan Unmuh Surabaya, menunjukkan cara kerja sarung tangan infus untuk anak-anak. (ANDY SATRIA/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Pemasangan infus pada pasien anak-anak terkadang membuat tidak nyaman bagi anak-anak dan berisiko infeksi karena menciderai tangan anak. Permasalahan inilah yang membuat empat mahasiswi Universitas Muhammadiyah Surabaya (UM Surabaya), Putri Lisdiyanti, Fatma Aula Nursyifa, Finka Yuanita dan Riskiyatul Mutammimah, berinisiatif untuk membuat sarung tangan infus untuk anak-anak.

Menurut Putri Lisdiyanti, timnya membuat sarung tangan infus tersebut memiliki fungsi sebagai penutup atau pelindung infus, atau dapat dikatakan sebagai penganti perban yang membalut infus bagi anak-anak.

"Fungsi dari sarung tangan infuse untuk melindungi tangan anak agar tidak mudah cedera, sebagai fiksasi, dan mengurangi stres rumah sakit pada anak-anak serta memudahkan perawat untuk mengganti perban,"katanya kepada Radar Surabaya.

Sarang Infus berbentuk seperti sarung tangan pada umumnya, yang ditengahnya terdapat lubang untuk memudahkan dokter mengobservasi jarum infus. Sarang Infus ini juga dilengkapi dengan fiksasi yang terbuat dari duplex berlapis spons. Menariknya, sarang infus ini bergambar tokoh pewayangan Gatotkaca dan Srikandi agar disukai anak-anak.

“Kami membuat sarung ini bermotif tokoh pewayangan juga sebagai bagian melestarikan budaya, agar anak-anak kecil juga mengetahui warisan leluhur tersebut,”imbuhnya

Sarang Infus yang ia kembangkan tersebut memiliki tiga ukuran. Antara lain untuk bayi, toddler (anak yang baru bisa berjalan), dan anak usia sekolah. "Produksinya saat ini masih kita kerjakan sendiri secara manual dan bergantian. Dimana setiap harinya kita menghasilkan 10 produk Sarang Infus," ungkapnya. 

Sementara itu menurut dosen pembimbing, Gita Marini S.kep, Ns., M.kes, untuk membuat sarung tangan tersebut dibutuhkan waktu dua tahun melalui riset serta pengembangan sarang infus hingga menjadi inovasi seperti saat ini. 

"Ini inovasi generasi ketiga yang dikembangkan mahasiswa selama kurang lebih dua tahun. Jadi ketemu manfaatnya satu-satu dulu sampai menjadi produk yang sekarang ini dengan banyak manfaat," terangnya. (rmt/rud)

(sb/jpg/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia