Sabtu, 07 Dec 2019
radarsurabaya
icon featured
Features Surabaya
Kisah Cinta Pasangan Mbah Suyatin dan Jasikun

14 Tahun Dampingi Istri Kontrol ke Rumah Sakit

11 Juli 2019, 12: 10: 59 WIB | editor : Wijayanto

SETIA: Pasutri Jasikun dan Mbah Suyatin.

SETIA: Pasutri Jasikun dan Mbah Suyatin. (ISMAUL CHOIRIYAH/RADAR SURABAYA)

Share this      

Saat pasangan baru banyak yang kawin cerai. Mbah Jasikun,82, membuktikan betapa cinta sejati itu ada. Perjalanan hidup, cinta,  kesetiaan dan pengorbananya patut diketahui oleh banyak orang.

Ismaul Choiriyah-Wartawan Radar Surabaya

Sudah 14 tahun, Mbah Jasikun menemani istrinya, Mbah Suyatin,77,untuk berobat ke RSUD Dr. Soetomo. Mbah Suyatin adalah pasien kanker. Tahun 2005 tahun lalu ia didiagnosa mengidap kanker mulut rahim.  Setidaknya sebulan dua kali  Mbah Suyatin harus bolak-balik ke rumah sakit, untuk control, ganti kateter, mengunjungi pusat paliatif dan Poli jantung. 

Selama ini, suaminya, Mbah Jasikunlah yang setia menemani kontrol. Dari  rumahnya  di Wonokusumo Jaya Gang 8 5A, mereka berjalan menuju tempat pemberhentian angkutan di Simokerto jaraknya lumayan jauh untuk mereka. Dengan uang Rp 10 ribu, mereka naik angkutan sampai depan rumah sakit. "Kalau uangnya saya gunakan naik becak, saya tidak bisa pulang, kurang uangnya," Kata Mbah Suyatin. 

Saat berjalan bersama, Mbah Suyatin mengaku  menjadi perhatian orang-orang yang menjumpainya. Mereka kerap dipanggil Mimi lan Mintuno, sebuah ungkapan dari budaya Jawa yang melambangkan sucinya sebuah kesetiaan. Karena mereka selalu berpegangan tangan selama berjalan bersama. Katanya, Mbah Jasikun tidak tega membiarkan istrinya jalan sendiri. Takut kalau-kalau Mbah Suyatin jatuh. 

Kesetiaan pasangan ini luar biasa. Selama belasan tahun itu, tak sekalipun Mbah Jasikun absen menemani istrinya kontrol. Meskipun kondisi matanya sudah tak lagi baik. Kesetiaannya ini karena hanya Mbah Jasikunlah, satu-satunya teman yang bisa mensupport istrinya. Ia hanya berharap satu hal, istrinya bisa pulih, dan semangat kembali, jangan sampai putus asa dengan penyakitnya. 

Jika Mbah Suyatin ingin menyerah, Mbah Jasikun selalu memberikan semangat. Kata-katanya sama. "Ingat, tetangga banyak yang gak sakit tapi cepat meninggal, kamu yang sakit tapi panjang umur, harus selalu semangat," Begitu ucapan Mbah Jasikun yang seperti mantra untuk kesehatan Mbah Suyatin. 

Meskipun selalu mensupport, Mbah Jasikun sendiri bukannya tidak sakit. Dua minggu sekali ia harus rutin kontrol ke Rumah Sakit Soewandhi. Namun kali ini ia sendiri, Mbah Suyatin tak kuat jika harus mengantarnya ke rumah sakit yang selalu ditempuh dengan berjalan kaki, sejauh itu.

"Kadang saya ya khawatir sama bapak, berangkat jam 6 pagi jam 6 malam belum pulang, ke mana orangnya," cerita t Mbah Suyatin.  Hidup Mbah Jasikun dan Mbah Suyatin memang sederhana. Mereka dibiayai oleh anak perempuan yang menjadi tulang punggung  utama keluarga. 

Mbah Suyatin menjelaskan, suaminya ini luar biasa. Ia tak pernah menyerah mendampinginya. Yang terkadang suka uring-uringan karena efek sakit yang menjalar di tubuhnya. Ia tak pernah marah. Sebaliknya, Mbah Suyatinlah yang kerap ngomel sendiri. "Sering saya omeli, kadang nonton bola rame sendiri, tapi ya diam saja dia kalau diomeli".

Di usianya yang tak lagi muda, Mbah Suyatin tidak lagi menganggap hubungannya adalah hubungan suami istri. Keduanya menganggap satu sama lain sebagai saudara. Yang selalu mendukung. 

Agaknya, pasangan muda harus belajar banyak tentang kesetiaan cinta antara Mbah Jasikun dan Mbah Suyatin. Yang selalu setia bersama di tengah kesulitan. Saling mendukung. Dan selalu akur meski stelah menikah janji bersama hampir setengah abad lalu.(*/rak) 

(sb/is/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia