Sabtu, 20 Jul 2019
radarsurabaya
icon featured
Features Surabaya
Sunak Mutia, Penjual Kacang Goreng Naik Haji

Penghasilan Cuma Rp 20 Ribu/Hari, Rajin Menabung Demi Berangkat Haji

10 Juli 2019, 18: 07: 45 WIB | editor : Wijayanto

SIAP-SIAP: Sunak Mutia Djumakah ditemui di AHES, Senin (8/7).

SIAP-SIAP: Sunak Mutia Djumakah ditemui di AHES, Senin (8/7). (RAHMAT SUDRAJAT/RADAR SURABAYA)

Share this      

Sunak Mutia Djumakah bukan dari kalangan ekonomi mampu. Penghasilannya hanya Rp 20 ribu per hari. Tapi, berkat ketekunan dan kedisiplinannya, perempuan 65 tahun asal Probolinggo itu mampu menunaikan rukun Islam ke lima. Ia bertolak ke Tanah Suci, kemarin (9/7), dari Bandara Internasional Juanda.

RAHMAD SUDRAJAT-Wartawan Radar Surabaya  

Ibu satu anak ini tinggal di Jalan Cokroaminoto, Kebonsari Kulon, Kota Probolinggo. Setelah suaminya meninggal karena sakit, Sunak memilih berjualan kacang goreng. Dititipkan ke warung-warung yang bisa dijangkau dengan langkah kakinya.

“Kan, suami saya meninggal dunia kira-kira sudah 17 tahun yang lalu. Saya jualan itu setelah suami saya meninggal dunia. Kalau gak salah sekitar 14 tahun lalu. Saat itu saya mikir kerja apa? Kalau kerja ikut orang, saya gak bisa gosok (seterika, Red). Akhirnya saya beli kacang setengah kilo, kemudian saya bikin kacang goreng. Saya jual ke warung-warung,” urainya kepada Radar Surabaya yang menemuinya di masjid Asrama Haji Embarkasi Surabaya (AHES), sehari sebelum berangkat ke Tanah Suci.

Kehidupan Sunak benar-benar sederhana. Untuk makan setiap hari, ia banyak diberi oleh tetangga sekitar rumahnya. “Saya kan man eman kalau diberi orang, terus gak dimakan. Dari pada dibuang mubadzir, ya Alhamdulillah juga bisa nabung setiap hari. Kemudian bisa juga untuk kulakan,” terangnya dengan logat Madura.   

Keinginan Sunak berangkat haji karena termotivasi oleh tetangganya yang saat itu sudah daftar haji. “Saya pingin haji itu karena ada tetangga saya ke rumah, kalau sudah daftar haji. Dari situ batin saya, kok ingin juga berangkat haji. Kemudian saya bilang ke tetangga saya, aku pingin nderek njenengan pak (saya ingin ikut bapak, Red), . Tapi tetangga saya itu gak semaur  (tidak menghiraukan, Red),” urainya.

Sebelum uangnya ditabung di bank yang ditunjuk pemerintah untuk melayani haji, Sunak memilih menyimpan tabungannya di bank keliling di kampungnya. Setelah uang tersebut terkumpul, Sunak dengan ditemani tetangganya mendaftar haji dan menabung untuk setoran haji.

“Awalnya aku hanya punya uang Rp 500 ribu untuk ikut mendaftar haji sekitar tahun 2010. Sama bapak itu (tetangga Sunak, Red) dititipakn ke bank. Saya nabungnya gak tentu. Kalau sudah terkumpul uangnya, baru saya setorkan. Tapi pas wis tak tabungno (setelah saya tabungkan, Red), tiba-tiba di tengah-tengah saya bingung. Aku posing (pusing, Red) uang dari mana lagi nanti,” ungkapnya.

Namun ketika niat Sunak hampir pudar, dirinya sempat berkeluh kesah ke tetanganya karena tidak adalagi yang akan ditabung untuk berangkat haji. “Saya bilang ke tetangga saya itu wurung (gak jadi, Red). Saya gak punya apa-apalagi, tapi aku dikongkon (disuruh, Red) minjam uang ke bapaknya (tetangganya, Red),” imbuhnya.

Tetapi niat meminjam uang tersebut diurungkan Sunak. Ia berpikir setelah pulang dari Tanah Suci, dirinya harus menanggung hutang. “Saya mikir, cari jalan keluar. Alhamdulillah saya gak sampai pinjam. Malah bisa melunasi, terakhir itu sekitar Rp 3,5 juta. Alhamdulillah dicukupi sama sing kuoso (Yang Maha Kuasa, Red). Berkat rahmat Allah saya bisa berangkat haji,”terangnya.

Hebatnya, selain bisa berangkat haji, Sunak juga bisa membadalkan haji (menggantikan haji) orang tuanya. Ia mengaku sudah menitipkan ke kelompoknya sekitar Rp 10 juta. “Saya sudah titipkan uang Rp 10 juta ke kelompok saya saat ambil koper, untuk membadalkan haji orang tua,” imbuhnya dengan wajah semringah.  (*/opi)

(sb/jpg/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia