Kamis, 14 Nov 2019
radarsurabaya
icon featured
Features Surabaya
Novy Alfeeya, Founder Merajut Le Tricoteur

Beramal dengan Berbagi Ilmu dan Merajut Knockers

07 Juli 2019, 10: 21: 59 WIB | editor : Abdul Rozack

BERAWAL DARI HOBI: Novy Alfeeya dan hasil rajutannya dalam suatu pameran.

BERAWAL DARI HOBI: Novy Alfeeya dan hasil rajutannya dalam suatu pameran. (ISTIMEWA)

Share this      

Merajut merupakan metode membuat kain, pakaian atau perlengkapan busana dari benang rajut. Namun saat ini, berbagai pernak-pernik lucu juga bisa dihasilkan dari hasil rajutan. Kegiatan ini biasanya dilakukan oleh ibu-ibu yang sudah berumur.

Herninda Cintia Kemala Sari-Wartawan Radar Surabaya

Adalah Novy Alfeeya, ibu muda sekaligus founder Le Tricoteur, yakni komunitas merajut yang berdomisili di Surabaya. Pesertanya tak hanya para ibu rumah tangga yang ingin berkegiatan di waktu senggangnya, tetapi juga para mahasiswa. Menurutnya, justru banyak remaja sampai dengan ibu-ibu muda yang sangat antusias ingin belajar dan ingin menekuni seni mengaitkan benang ini. 

Novy bercerita, pada bulan Maret 2016 lalu, ia bersama rekannya Yosy Natalya sama-sama berada di sebuah komunitas craft di Sidoarjo. Dan keduanya pun saat itu sama-sama sudah bisa merajut. Sehingga, keduanya memutuskan untuk menjual produk rajutan mereka di bazar. Selama bazar berlangsung, banyak yang mendatangi stand mereka dan menanyakan apakah produk yang mereka jual merupakan produk komunitas atau bukan. 

"Mereka juga bertanya, apakah ada tempat belajarnya juga. Rata-rata dari mereka itu anak-anak muda yang masih kuliah dan ibu-ibu muda. Saya pikir bakal seru nih kalau bikin komunitas yang anggotanya masih muda-muda. Akhirnya kami membuat komunitas untuk belajar bareng," terangnya. 

Sejak saat itu, menurut Novy, ia bersama dengan rekannya membuat 'status' di sosial media masing-masing yang isinya adalah pemberitahuan untuk berkumpul bersama dan sekaligus ajakan bagi siapa saja yang ingin belajar merajut. Di pertemuan pertama, kurang lebih ada 15 orang yang datang. Dan rata-rata dari mereka sudah bisa merajut, tetapi ada pemula juga. “Dari pertemuan pertama itu, akhirnya setiap bulan kami adakan pertemuan rutin, yang nantinya anggota yang sudah mahir merajut bisa menjadi mentor saat pelatihan," jelasnya.

Hingga saat ini sudah banyak anggota komunitas yang mulai menerima order pernak-pernik rajutan. Rata-rata dari mereka menjualnya secara online. 

Selain rutin melakukan gathering anggota komunitas untuk menambah wawasan satu dengan lainnya, dan program pelatihan bagi pemula. Le Tricoteur juga rutin melakukan kegiatan sosial. Novy mengungkapkan, pihaknya akan dengan senang hati memberikan pelatihan-pelatihan kepada yang membutuhkan sebagai bekal mereka nantinya. "Berbagi tidak melulu soal materi kan, jadi berbagi dengan melatih keterampilan yang setiap orang pasti punya. Awalnya dulu kami memberikan pelatihan kepada anak-anak di pantai asuhan. Mereka bisa membuat beraneka macam benda yang kemudian bisa mereka jual. Setidaknya mereka memiliki kemampuan yang bermanfaat untuk mereka kelak," ungkapnya.

Selain itu, kegiatan sosial lainnya yang sampai saat ini masih terus berlanjut adalah kegiatan sosial yang bekerja sama dengan Knitted Knockers Indonesia (KKI). KKI merupakan lembaga yang membuat bantalan payudara dari rajutan dan diberikan secara gratis kepada survivor. "Sudah lumayan lama kami bekerja sama sama dengan KKI untuk menyediakan knockers, atau rajutan khusus payudara buatan tangan untuk wanita yang telah mengalami mastectomies atau lumpectomies (pengangkatan payudara pada psien kanker, Red)," ungkapnya.

Menurutnya, permintaan knockers yang masuk ke KKI selalu lebih besar daripada kemampuan membuat knockers itu sendiri. "Oleh karena itu, kami berharap, semoga dengan banyaknya media yang meliput, makin banyak pula yang mau bergabung menjadi relawan dan makin tersebar luas informasi tentang KKI, sehingga bisa membantu lebih banyak lagi," pungkasnya. (*/nur)

(sb/cin/jek/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia