Jumat, 06 Dec 2019
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi Surabaya

Terkendala Upah, Industri Manufaktur Jatim Kalah Saing dengan Vietnam

06 Juli 2019, 13: 35: 47 WIB | editor : Wijayanto

PRO INDUSTRI: Salah satu industri manufaktur yang terimbas masalah kenaikan UMR adalah industri padat karya seperti alas kaki.

PRO INDUSTRI: Salah satu industri manufaktur yang terimbas masalah kenaikan UMR adalah industri padat karya seperti alas kaki. (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Industri manufaktur Jawa Timur (Jatim) dinilai kalah bersaing dengan Vietnam. Menurut Ketua Forum Komunikasi Asosiasi Pengusaha (Forkas) Jatim Nur Cahyudi, kendala utamanya terletak pada Upah Minimum Regional (UMR) dan Sumber Daya Manusia (SDM). Oleh sebab itu, para pelaku usaha berharap agar pemerintah mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang pro terhadap industri padat karya.

Nur Cahyudi menuturkan, hingga saat ini industri masih mengalami banyak hambatan, sehingga sulit tumbuh bahkan industri hengkang dari Jatim. "Kita masih dihadapkan dengan Permendag 110 tentang pembatasan impor baja dan kain khusus untuk mebel, padahal jumlahnya tidak banyak. Pada akhirnya ada industri mebel yang kehilangan potensi buyer sampai USD 110 juta," katanya, Jumat (5/7).

Jika membandingkan dengan Vietnam, lanjutnya, yang menjadi negara pesaing, pemerintah seharusnya bisa membuat kelebihan dalam membuat kebijakan. Misalnya dari segi upah pekerja tinggi tapi pajaknya harus ditekan, atau pajaknya tinggi tetapi harga energinya diturunkan. "Ini supaya seimbang, jadi tidak semua parameter kalah dengan Vietnam. Nah ini harus jadi pertimbangan pemerintah dalam membuat kebijakan, regulasi harus dipermudah dan harus diperjuangkan," imbuhnya.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Persepatuan Jatim Winyoto Gunawan mengungkapkan, industri padat karya di Jatim, terutama sektor alas kaki mengalami hambatan pertumbuhan. Menurut Winyoto, hambatan utama yang dialami industri alas kaki di Jatim adalah tingginya kenaikan UMR yang tidak sesuai dengan pertumbuhan industri tersebut.

Menurutnya, di Jatim ada sekitar 50 industri alas kaki, dengan jumlah tenaga kerja sekitar 100 ribu. Sebagian besar industri alas kaki tersebut tersebar di wilayah ring 1 Jatim, atau tepatnya di Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Mojokerto, Pasuruan, dan lain sebaginya. Artinya UMR di wilayah tersebut sebesar Rp 3,8 juta.

"Untuk alas kaki yang di Jatim saat ini kita mengalami banyak hambatan. Pertama dengan naiknya UMR. Alas kaki di jatim ada 50 perusahaan menengah dengan tenaga kerja 100 ribu. Kami berharap pemerintahan dapat membantu industri alas kaki di Jatim ini," paparnya.

Oleh sebab itu, perlu kebijakan khusus di industri padat karya, khususnya terkait suku bunga pinjaman yang dirasanya masih tinggi dibanding negara lainnya. (cin/nur)

(sb/cin/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia