Minggu, 08 Dec 2019
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi Surabaya

Potensi Pengembangan Kawasan Industri di Jatim Masih Terbuka Lebar

06 Juli 2019, 13: 33: 16 WIB | editor : Wijayanto

ADA PERMINTAAN: Pengembangan kawasan industri yang ada di Jatim, salah satunya di Gresik menunjukkan peningkatan dari jumlah kawasan maupun luasnya ka

ADA PERMINTAAN: Pengembangan kawasan industri yang ada di Jatim, salah satunya di Gresik menunjukkan peningkatan dari jumlah kawasan maupun luasnya kawasan industri. (YUDHI DWI ANGGORO/RADAR GRESIK)

Share this      

SURABAYA – Jawa Timur (Jatim) memiliki potensi lahan seluas 31.784 hektare (ha) di sejumlah wilayah yang dapat dikembangkan menjadi area kawasan industri (KI). Pengembangan kawasan industri untuk mengakomodasi kebutuhan investasi bidang manufaktur dalam beberapa tahun ke depan.

Kepala Bidang Pengembangan Industri dan Perdagangan Disperindag Jatim Saiful Jasin mengatakan, hingga saat ini total kawasan industri eksisting baru ada sekitar 4.097 ha. KI tersebut di antaranya Java Integrated Industrial Port Estate (JIIPE) 1.761 ha, Kawasan Industri Gresik (KIG) 140 ha, Surabaya Industrial Estate Rungkut (SIER) 248 ha, Sidoarjo Industrial Estate Brebek 87 ha.

Kemudian di Ngoro Industrial Park (NIP) 500 ha, Pasuruan Industrial Estate Rembang (PIER) 534 ha, dan Safe N Lock Eco Industrial Park 307 ha. Oleh sebab itu, pemerintah dan pengembang akan terus menyediakan KI, terutama daerah-daerah potensi di luar ring 1 yang memiliki UMK lebih rendah sehingga diharapkan bisa memiliki daya saing.

Adapun kawasan industri yang sedang digarap dan ditawarkan ini di antaranya berada di Gresik yakni KI Agroindustri Gresik Utara 4.300 ha dan KI Salt Lake 285 ha, sedangkan di Jombang ada Kawasan Industri Ploso seuas 800 ha, serta Kawasan Industri Mojokerto seluas 10.000 ha.

"Di Tuban juga ada ekspansi pengembang PT Kawasan Industri Gresik seluas 300 ha, dan di Lamongan ada Kawasan Industri Maritim 400 ha, serta Kawasan Industri Wongsorejo (KIW) seluas 480 ha di Banyuwangi," tuturnya.

Menurutnya, investasi manufaktur yang saat ini dibutuhkan oleh Jatim adalah industri pengolahan barang modal, komponen dan bahan penolong. Mengingat selama ini impor bahan baku di Jatim masih sangat tinggi.

"Potensi daerah yang cocok untuk pengembangan industri bahan baku ini bisa Surabaya, Malang, Kediri, Gresik dan Mojokerto," imbuhnya. Sedangkan industri berbasis agro seperti pengolahan daging dan susu lebih cocok dibangun di Pasuruan, Malang, Sumenep, Bangkalan, Pamekasan, Tulungagung, Blitar, Batu, Kediri dan Probolinggo.

Saiful menambahkan, tahun ini Pemprov Jatim menargetkan industri manufaktur bisa tumbuh 7,5 persen lebih tinggi dari realisasi tahun lalu sekitar 7 persen. Pihaknya meyakini bisa mencapai target lantaran saat ini Jatim sudah memiliki infrastruktur yang menunjang. Mulai adanya akses jalan tol baru hingga ketersediaan pasokan listrik yang terus dikembangkan PLN.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim, pertumbuhan produksi manufaktur skala besar dan sedang di Jatim pada kuartal I 2019 mengalami kontraksi -0,59 persen jika dibandingkan kuartal sebelumnya. Namun bila dibandingkan dengan periode yang sama 2018, industri Jatim tumbuh 7,34 persen.

Kepala BPS Jatim Teguh Pramono menuturkan, sejak 2017, manufaktur Jatim tumbuh dengan bagus, di kuartal I bisa tumbuh 7,45 persen padahal pada kuartal I pada 2016 cuma bisa tumbuh 3,47 persen. "Produksi industri skala besar dan sedang yang mengalami pertumbuhan tertinggi pada kuartal I 2019 yakni industri furnitur 68,50 persen (yoy) dan industri mamin 65,60 persen (yoy)," imbuhnya. (cin/nur)

(sb/cin/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia