Kamis, 23 Jan 2020
radarsurabaya
icon featured
Features Sidoarjo
Budidaya Udang dan Lobster Hias di Kebonsari

Zulfikri Raup Omzet Jutaan Rupiah dari Red Claw dan Red Marlboro

06 Juli 2019, 13: 09: 43 WIB | editor : Wijayanto

MERAH MENYALA: Zulfikri menunjukkan lobster hias yang dia kembangbiakkan di rumahnya.

MERAH MENYALA: Zulfikri menunjukkan lobster hias yang dia kembangbiakkan di rumahnya. (SATRIA NUGRAHA/RADAR SIDOARJO)

Share this      

Selama ini banyak dikenal udang dan lobster yang diperjualbelikan di pasaran untuk kebutuhan konsumsi. Namun, Zulfikri (43) warga Desa Kebonsari, Kecamatan Candi berhasil membudidayakan lobster dan udang hias air tawar yang banyak diminati penggemar ikan hias akuarium. Dari hasil ketekunannya ini, peternak tersebut bisa menghasilkan jutaan rupiah per-bulannya.

SATRIA NUGRAHA-Wartawan Radar Sidoarjo

Zulfikri menceritakan awal ketertarikan memelihara udang dan lobster hias berawal dari lima tahun lalu. Keindahan bentuk dan warna udang serta hasil yang menjanjikan membuat Zulfikri tertarik menekuni budidaya yang jarang dilakukan orang ini.

“Lobster dan udang hias air tawar ini memang menarik. Warnanya merah menyala dan dengan bentuk yang unik membuatnya menjadi idola penggemar hewan air tawar” ujar bapak empat anak ini. Tak heran, udang hias milik Zulfikri menjadi salah satu favorit penghobi ikan hias untuk dijadikan pelengkap akuarium mereka.

Zulfikri memiliki dua jenis lobster hias yang banyak diminati yakni Red Claw dan Red Marlboro. Jenis Red Claw memiliki ciri badan hitam dengan supit merah. Jenis ini selain untuk ternak hias juga bisa dikonsumsi sebagai masakan sebab beratnya bisa mencapai satu kilogram lebih.

Sedangkan jenis Red Marlboro warnanya tubuhnya merah dan tidak bisa dikonsumsi. “Saya hanya punya dua jenis yakni red claw dan red Marlboro saja, karena yang paling banyak dicari ya dua jenis itu,” kata Zulfikri di rumahnya, Desa Kebonsari, Kecamatan Candi (5/7).

Menurut dia, memelihara udang dan lobster hias sangat mudah. “Kondisi air pada budidaya lobster ini sangat diperhatikan karena lobster mudah stres atau bahkan menjadi agresif bila suhu atau kandungan mineral yang berada di dalam air berubah. Suhu didalam air harus dijaga agar tetap antara 20 hingga 22 derajat celcius” jelasnya. 

Setelah mengecek kondisi air, Zulfikri lantas membersihkan hama yang menjadi musuh utama anakan lobster dan udang hias. Di antaranya, katak dan kecebong. Setelah itu baru lah memberi makan lobster dan udang hias tersebut dengan menggunakan pakan pelet ataupun kupang mentah.

Pemberian pakan ini juga patut diperhatikan karena bila pakan tidak habis dalam sehari sisa pakan akan menjadi amonia yang bisa mengakibatkan lobster tersebut mabuk bahkan mati. “Pemberian pakan tidak  usah banyak-banyak asal cukup karena kalau tidak habis sisa makanan bisa menjadi racun bagi lobster dan udang,” terang Fikri.

Di saat ramai, permintaan dalam satu bulan dia bisa mengirim 4 hingga 5 kali yang berjumlah seribu ekor dalam setiap pengiriman. Harga di pasaran, saat ini 1 ekor lobster mencapai Rp 10 ribu. Sedangkan udang hias seharga Rp 5 hingga 100 ribu per ekor.

Selain rutin mengirim ke pasar ikan, tak jarang para pembeli datang langsung ke rumah. Biasanya pembeli yang langsung datang kerumah yakni para peternak pemula yang ingin mencoba budidaya lobster dan udang hias air tawar. Untuk indukan dijual satu paket yakni 2 pejantan dan 5 betina usia 3 hingga 5  bulan seharga Rp 300 ribu. “Alhamdulillah kalau lagi ramai bisa dapat duit lumayan, pernah satu bulan bisa mendapatkan Rp 3 hingga 4 juta,” imbuhnya. (*/nis)

(sb/sat/jay/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia