Selasa, 20 Aug 2019
radarsurabaya
icon featured
Hukum & Kriminal Surabaya

Oknum Kepala Sekolah Ini Dibui karena Menganiaya dan Mencabuli Murid

06 Juli 2019, 12: 31: 48 WIB | editor : Wijayanto

TAK MENDIDIK: Tersangka Ali Shodiqin diamankan di Polda Jatim.

TAK MENDIDIK: Tersangka Ali Shodiqin diamankan di Polda Jatim. (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA – Dunia pendidikan tercoreng karena kelakuan negatif salah satu oknum kepala sekolah (Kasek). Seorang Kasek Sekolah Menengah Pertama (SMP) swasta di Ketintang, Surabaya, Ali Shodiqin, 40, warga Desa Trosobo, Kecamatan Taman, Sidoarjo ditangkap anggota Subdit IV Reknata Ditreskrimum Polda Jatim.

Pelaku ditangkap atas laporan dari salah satu wali murid yang anaknya menjadi korban. Pelaku dilaporkan melakukan penganiayaan dan pencabulan terhadap muridnya. Tidak tanggung-tanggung ada enam orang murid yang rata-rata berusia 15 tahun atau kelas II SMP menjadi korbannya.

Kasubdit IV Reknata Ditreskrimum Polda Jatim AKBP Festo Ari Permana mengatakan, tersangka ini dilaporkan oleh salah satu orang tua korban yang anaknya menjadi korban asusila yang dilakukan oleh tersangka.

Awalnya hanya satu wali murid saja, namun setelah ada pertemuan wali murid tersebut baru diketahui ada lima murid lainnya yang menjadi korban penganiayaan dan juga asusila ini. “Mereka melaporkan ke kami sehingga kami tindak lanjuti dengan penangkapan terhadap tersangka,” kata AKBP Festo Ari Permana. 

Festo mengatakan, keenam korban yang diketahui menjadi korban ini ada yang dianiaya. Penganiayaan tersebut dilakukan tersangka dengan memukulkan paralon ke punggung korban. Ini dilakukan tersangka di dalam kelas dan disaksikan teman korban.

Tidak hanya kekerasan saja, tersangka juga melakukan tindak asusila terhadap murid lainnya  Hal ini dilakukan tersangka mulai Agustus 2018- Maret 2019. “Korbannya murid laki-laki. Tersangka melakukannya di tempat wudlu atau saat korban berdzikir di musala komplek sekolahan tersebut,” terangnya.

Dalam penyelidikan, sebelum melakukan tindak asusila tersangka memuji korbannya lebih dulu. Tersangka biasanya mengatakan korban ganteng atau cakep. Mengenai kemungkinan tersangka ini memiliki gangguan kejiwaan, polisi belum bisa memastikannya. Nanti akan kami dalami lagi mengenai hal itu (gangguan kejiwaan,Red),” tegasnya.

Sementara itu, Direktur Surabaya Children Crisis Center Edward Dewaruci mengaku prihatin dengan adanya kasus penganiayaan dan tindak asusila di lingkungan sekolah. Selama ini sekolahan yang dipercaya orang tua untuk mendidik dan mempercayakan anaknya malah menjadi salah satu tempat tindak kekerasan  dan asusila.

“Ini kasus besar, selama ini paling banyak korbannya. Saya apresiasi kepolisian karena sudah mengungkap kasus ini,” katanya.

Ia berharap dengan kembali terjadinya hal seperti ini, pemerintah bisa membuat regulasi khusus untuk penerimaan karyawan yang hendak bekerja di sebuah lembaga pendidikan. Baik itu, untuk guru, pembantu umum hingga penjaga sekolah.

“Semua yang berinteraksi dengan anak di lingkungan sekolah harus melewati tahap verifikasi agar hal yang sama tidak terjadi dikemudian hari,” tandasnya.

Informasinya, kepala SMP swasta yang melakukan pencabulan dan penganiayaan kepada enam murid laki-laki informasinya sudah di copot dari jabatan kepala sekolah sejak 2 bulan yang lalu.

“Dia sudah diberhentikan sekitar 2 atau 3 bulan lalu dan diganti oleh plt kepala sekolah,” ujar salah satu kolega pelaku, yang enggan namanya di korankan. Namun pihak sekolah dan yayasan secara resmi enggan memberi penjelasan. Termasuk di website sekolah, nama tersangka juga masih tercatat.  (gun/rud)

(sb/rus/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia