Rabu, 21 Aug 2019
radarsurabaya
icon featured
Features Sidoarjo
Mengunjungi Paguyuban Seni Akik Pasar Larangan

Penghobi Sejati Tak Bakal Tergerus Zaman

04 Juli 2019, 17: 33: 17 WIB | editor : Wijayanto

HOBI: Ketua Paguyuban Seni Akik Sidoarjo, Emil Ma'ruf menunggu lapak dagangan.

HOBI: Ketua Paguyuban Seni Akik Sidoarjo, Emil Ma'ruf menunggu lapak dagangan. (RIZKY PUTRI PRATIMI/RADAR SURABAYA)

Share this      

Sebanyak 14 pedagang batu akik setiap hari membuka lapak di sebelah barat Pasar Larangan. Mereka adalah pecinta batu akik sejati. Sebab, meski tren akik tak seheboh tahun 2014-2015, mereka tetap bertahan dengan kecintaannya pada bebatuan eksotis itu.

RIZKY PUTRI PRATIMI-Wartawan Radar Sidoarjo

Emil Ma’ruf adalah ketua paguyuban seni akik Larangan. Sudah satu tahun terakhir, dirinya bersama 13 pedagang akik lainnya, disediakan tempat berjualan yang lebih nyaman oleh ketua RW setempat. Di bawah tenda berwarna merah, bebatuan dan bantalan cincin itu berjejer dengan rapi.

Sedikit debu saja yang menempel, langsung dibersihkannya. Sebagai pecinta akik sejak tahun 90 an, Emil sudah keliling Indonesia untuk ikut kontes atau sekedar ingin membeli batu jenis tertentu. “Ketularan dari sepupu. Awalnya saya hanya beli satu, tapi lama kelamaan keterusan,” kenang pria kelahiran Sidoarjo, 8 Juli 1978.

Di tahun 90 an itu, Emil bercerita, akik juga sempat memasuki masa jaya. Ia kembali merasakan kejayaan akik di tahun 2014 sampai 2015. Ia mengatakan, bahwa booming akik bisa terulang, jika muncul generasi yang baru.

Seperti empat tahun lalu, Emil mengistilahkan, saat itu orang-orang sudah “terlalu kenyang” belanja akik. Dari anak kecil sampai orang tua ikut main akik. Meskipun saat ini tak banyak yang mencari akik, Emil tetap membuka lapaknya untuk pecinta akik sejati yang lain. “Mereka yang pecinta sejati, tetap datang mencari koleksi baru. Tak ikut-ikutan tren. Sekarang yang cari kesini yang benar benar penghobi,” ujarnya.

Dari puluhan batu yang menjadi koleksi pribadinya, ia pernah membeli batu termahal seharga Rp 15 juta. Berhasil dijual kembali dengan harga Rp 40 juta. “Batu asli Indonesia yang paling tren. Bahkan untuk permata itu kalah. Sekarang seimbang antara permata dan batu lokal itu seimbang,” imbuhnya.

Batu termurah yang saat ini ia jual, seharga Rp 50 ribu, sampai yang termahal Rp 8 juta. Sedangkan untuk harga emban cincin mulai Rp 15 ribu sampai Rp 80 ribu untuk bahan alpaka. Untuk menyiasati penjualan batu akik agar tidak semakin menurun, Emil pun melebarkan sayap ke penjualan online. Pelanggannya bukan dari wilayah Sidoarjo saja, tapi juga dari Bengkulu dan Kalimantan.

Ia ingin dinas terkait bisa menghidupkan wisata akik di Sidoarjo. “Ini kekayaan lokal. Eman jika tidak dimanfaatkan untuk mendongkrak ekonomi,” tutupnya. (*/vga)

(sb/jpg/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia