Minggu, 08 Dec 2019
radarsurabaya
icon featured
Surabaya

Jamban Sudah Sehat, Tapi Buang Diaper Masih di Sungai

03 Juli 2019, 08: 00: 59 WIB | editor : Abdul Rozack

Peringatan di jembatan karangpilang, larangan membuang popok di sungai

Peringatan di jembatan karangpilang, larangan membuang popok di sungai (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Program Jamban sehat yang dikembangkan oleh Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur (Dinkes Jatim) sudah mencapai 84 persen.  Angka yang cukup bagus itu dinilai sia-sia saja jika sampai saat ini masih banyak popok sekali pakai atau diaper yang dibuang di sungai. 

Disampaikan oleh Kepala Dinkes Jatim Kohar Hari Santoso, program jamban sehat bertujuan untuk menciptakan sanitasi yang sehat. Sanitasi yang sehat ini juga mencakup sungai yang sehat. Apabila saat ini sungai masih tercemar oleh limbah popok, maka sama saja upaya sanitasi sehat tidak akan terlaksana dengan baik. "Percuma saja. Buang air besarnya dibuang di jamban yang bagus. Tapi popoknya yang juga mengandung kotoran dibuang di sungai. Air sungainya di hilir dipakai orang, nanti tetap mencemari," paparnya, Selasa (2/7).

Apalagi, selain mencemari manusia yang akan memanfaatkan airnya, limbah popok ini juga berbahaya terhadap biota sungai di dalamnya. Seperti ikan yang akhirnya terkontaminasi limbah. Untuk diketahui, 80 persen ikan di Sungai Brantas memakan gel dari popok, sehingga mencemari makanan.

Oleh karenanya, ia mendorong untuk segenap masyarakat untuk berhenti membuang limbah popok di sungai. Sehingga turut mengurangi kontribusi penambahan limbah air. Larangan membuang sampah sembarangan juga tertulis dalam Peraturan Pemerintah(PP) Undang-undang Nomor 251   tentang Pengendalian dan Pencemaran air, dan PP Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengolahan Sampah. "Masih banyak yang percaya mitos, dibuang di sungai biar adem, kalau dibakar jadi sakit, itu mitos yang salah,” imbuhnya. 

Pun juga dengan jamban helicopter, atau jamban yang dibangun di atas sungai. Ia berharap kesadaran masyarakat untuk meninggalkan model buang air besar sembarangan seperti itu. Sehingga sungai tidak lagi tercemar.

Kohar menyampaikan, saat ini upaya pemenuhan jamban sehat terus digalakkan. Upaya itu, menurutnya juga akan cepat sempurna jika ada gotong royong dari masyarakat. Misalnya kesediaan masyarakat yang kaya membantu tetangganya untuk membangunkan jamban sehat. "Toh biaya yang dikeluarkan tidak banyak. Kalau jambannya saja hanya 1,5 hingga 2 juta. Kalau ada gotong royong ini saya kira cepat teratasi masalah jamban sehat ini," paparnya. 

Meski angka kepemilikan jamban sehat di Jatim tergolong tinggi, angka daerah yang bebas buang air besar sembarangan atau open devication free (ODF) masih kecil. Setidaknya hingga saat ini masih ada enam kabupaten yang mendeklarasikan daerahnya sebagai ODF. Di antaranya  Pacitan, Kota Madiun, Ngawi, Magetan, Lamonggan dan Pamekasan. (is/nur)

(sb/is/jek/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia