Minggu, 08 Dec 2019
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi Gresik

Mahal, Peminat Mobil Hybrid Masih Minim

02 Juli 2019, 08: 56: 59 WIB | editor : Wijayanto

HYBRID: Salah satu mobil hybrid yang dikenalkan oleh Toyota Auto 2000.

HYBRID: Salah satu mobil hybrid yang dikenalkan oleh Toyota Auto 2000. (M FIRMAN/RADAR GRESIK)

Share this      

GRESIK - Hingga kini peminat mobil hybrid masih minim dibanding mobil reguler. Itu terjadi karena harga mobil hybrid relatif lebih mahal. Kendati demikian pabrikan otomotif masih optimis penjualan mobil hybrid. 

"Optimisme itu karena salahsatunya didorong dengan sejumlah regulasi yang akan dikeluarkan oleh pemerintah mengenai kendaraan listrik," kata Area Manager Auto 2000 Jatim, Hendra Purnawan. 

Dikatakan, untuk kendaraan listrik model hybrid memang belum terjangkau masyarakat kelas menengah. Pihaknya terus berupaya mencari celah dan melakukan inovasi agar mobil Hybird dapat dijangkau masyarakat. 

"Saat ini belum banyaknya populasi mobil hybird di Indonesia dikarenakan harganya masih tinggi. Dulunya harga yang paling murah sekitar Rp 800 jutaan. Namun kami terus berinovasi hingga harga mendekati angka Rp 500 juta,” ujar Hendra saat melaunching Toyota C-HR Hybird.

Dikatakan, di Indonesia sebagia besar daya beli masih bergantung pada harga. Masyarakat tidak terlalu peduli dengan tampilan, maupun kenyamanan kendaraan. Hal inilah yang membuat mobil LCGC selalu mencatat penjualan tertinggi.

“Saya optimis pasar mobil hybrid akan berkembang lebih masif kedepan. Hanya tingga menunggu realisasi regulasi dari pemeritah. Untuk itu kami bertekad merebut perhatian pasar sejak saat ini,” imbuhnnya. 

Sementara itu, Kepala Cabang PT Srikandi Indah Diamond Motor Gresik, Hendra Cahya beranggapan, jika perusahaan komponen bisa melahirkan mesin hybrid dengan ukuran lebih mungil kemungkinan disparitas harga bisa ditekan. 

“Saat ini Pepres kendaraan listrik yang dibuat oleh Pemerintah hanya fokus ke kendaraan listrik murni baterai. Sementara mobil Hybird tidak diatur. Apalagi insentif hanya akan diberikan bagi produsen yang mau merakit di Indonesia,” ujarnya.

Adapun struktur insentif yang sekarang tersedia untuk mobil rendah emisi, kata Hendra, yakni adanya potongan pajak penjualan barang mewah (PPnBM) sekitar 25 persen hingga 30 persen. 

“Namun, insentif tambahan apa saja yang kelak diberikan pemerintah untuk pengembangan hybrid ini belum semuanya diketahui. Maka tidak salah jika populasi mobil jenis ini masih sedikit,” tandasnya. (fir/ris)

(sb/fir/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia