Jumat, 24 Jan 2020
radarsurabaya
icon featured
Features

ACT Respons Cepat Pasokan Air Bersih untuk Darurat Kekeringan di Jawa

02 Juli 2019, 09: 55: 59 WIB | editor : Wijayanto

SIGAP: Relawan ACT memberikan suplai air bersih kepada warga yang dilanda kekeringan.

SIGAP: Relawan ACT memberikan suplai air bersih kepada warga yang dilanda kekeringan. (ISTIMEWA/ACT)

Share this      

JAKARTA – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) merilis potensi kekeringan meteorologis di beberapa wilayah di Indonesia. Berdasarkan hasil pemantauan curah hujan hingga 20 Juni 2019 lalu, sebagian besar wilayah pulau Jawa masuk dalam kategori Siaga.

Sementara itu dari pemantauan tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) Tasikmalaya selama pekan kedua Juni 2019, sudah ada sembilan kecamatan yang mengalami kekeringan di wilayah tersebut. Tidak hanya di Tasikmalaya, wilayah Kabupaten Semarang juga dilanda kekeringan.

Air sumur yang biasa dimanfaatkan warga di tujuh kecamatan di Semarang telah mengering. Mereka pun terpaksa memanfaatkan air sungai untuk kebutuhan mandi dan mencuci. Warga juga harus mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli air minum.

KERING: Salah satu daerah di Kabupaten Semarang yang mengalami kekeringan di musim kemarau ini.

KERING: Salah satu daerah di Kabupaten Semarang yang mengalami kekeringan di musim kemarau ini. (ISTIMEWA/ACT)

Menanggapi kekeringan di sejumlah wilayah di pulau Jawa itu, Aksi Cepat Tanggap (ACT) menyiapkan sejumlah program pasokan air bersih. Kepala Cabang ACT Jawa Tengah  Sri Suroto mengatakan, ia dan tim akan berusaha merespons cepat krisis air bersih akibat kemarau di Semarang.

“ACT sebagai salah satu lembaga kemanusiaan akan merespons cepat dengan penyediaan suplai air bersih melalui water tank. Tim segera gerak cepat memastikan assesment dan menyampaikan ke publik untuk menggerakkan kepedulian,” terang Suroto.

Ia menyampaikan bahwa kekeringan sangat berpengaruh terhadap produk pertanian, ketersediaan pangan, dan kemiskinan. Karena itu penyediaan suplai air bersih menjadi momen saling membantu. “Air adalah kebutuhan pokok. Semua elemen harus bahu membahu menolong saudara kita yang terdampak kekeringan,” ujarnya.

Sebelumnya pada Maret lalu, BMKG mengungkapkan jika awal musim kemarau akan dimulai pada April 2019. Ada beberapa wilayah yang perlu mewaspadai datangnya kemarau lebih awal. Yakni Nusa Tenggara Timur dan Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, serta Jawa Barat bagian tengah dan selatan. (act/jay)

(sb/jpg/jay/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia