Minggu, 08 Dec 2019
radarsurabaya
icon featured
Hukum & Kriminal Gresik

Nekat Curi Kotak Amal Musala, Gelandangan Ini Nyaris Diamuk Massa

01 Juli 2019, 18: 15: 49 WIB | editor : Wijayanto

DIGELANDANG: Pelaku pencurian kotak amal diamankan polisi dari amukan massa.

DIGELANDANG: Pelaku pencurian kotak amal diamankan polisi dari amukan massa. (MUHAMMAD FIRMANSYAH/RADAR GRESIK)

Share this      

GRESIK – Mohammad Rizal Bin Ahmad, 21, warga Lumajang, hampir saja menjadi sasaran amuk massa.  Ini setelah aksi nekatnya mencuri kotak amal Musala Kiai Moh. Lazim yang berada di Jalan KH Hasyim Asy’ari 47 Kelurahan Kroman, Kecamatan Gresik Kota diketahui warga sekitar. Untungnya, aparat kepolisian berhasil mengamankan pelaku sebelum warga mengajarnya.

Peristiwa tersebut terjadi pada Sabtu pukul 21.30 lalu. Pelaku terlihat mondar-mandir di sekitar kota amal mushola. Warga yang curiga dengan gerak-gerik pelaku kemudian melaporkan hal tersebut kepada Takmir Musala, Achmad Zainus Sholichin.

Mendengar laporan tersebut, Achamd Zainur Sholichin kemudian mendatangi mushola bersama warga. “ Saya dilapori warga katanya ada  orang mencurigakan sedang mondar-mandir di sekitar kotak amal. Padahal orang tersebut tidak sedang beribadah,” ujarnya.

Sesampainya di musola, dirinya kaget lantaran melihat isi kotak amal telah kosong. Tanpa basa-basi pelaku kemudian ditangkap dan diintrogasi. “Awalnya saat saya tanya sempat tidak mengaku. Saya paksa akhirnya dia menyembunyikan uang hasil curiannya di dalam toilet,” katanya.

Mendengar pengakuan pelaku, warga naik pitam. Beruntung, sebelum babak belur dihakimi massa, aparat kepolisian dari Polsek Gresik Kota datang dan menggelandang pelaku ke Mapolsek.

“Sebenarnya warga sudah mau menghajar, namun pengurus takmir dibantu dengan polisi berusaha menenangkan,” imbuhnya.

Sementara itu, Kanit Reskrim Polsek Gresik, Iptu Yoyok Mardi membenarkan kejadian tersebut. Dia mengatakan, berdasarkan hasil pengembangan ternyata pelaku juga pernah ditangkap untuk kasus serupa.

“Dulu pernah kami tangkap dan kami serahkan ke Dinas Sosial untuk pembinaan karena dibawah umur. Oleh dinas sosial diantarkan pulang ke Lumajang. Tapi rupanya dia balik lagi. Jadi terpaksa kita jebloskan ke tahanan,” kata Yoyok. (fir/rof)

(sb/fir/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia