Kamis, 14 Nov 2019
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi Gresik

Apersi Gresik Optimistis Serapan Rumah Subsidi Tercapai

29 Juni 2019, 13: 37: 17 WIB | editor : Wijayanto

LARIS: Perumahan subsidi di salah kawasan di Gresik.

LARIS: Perumahan subsidi di salah kawasan di Gresik. (DOK/RADAR GRESIK)

Share this      

GRESIK -  Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) bakal menaikkan harga rumah subsidi dari yang semula Rp 130 juta naik menjadi Rp 140 juta. Kebijakan itu membuat pengembang di wilayah Gresik optimistis penjualan rumah subsidi 2019 naik.

Ketua Komisariat DPD Real Estate Indonesia (REI) Gresik Muhamamad Iqbal Randy mengatakan kenaikan rumah subdisi itu berdasarkan bahan material bangunan. Meski harga rumah meningkat, masyarakat tetap mampu mengangsur rumah. Lantaran, upah juga mengalami kenaikan.

“Kami optimistis serapan masih tinggi. Kita harus logis kalau harga tanah dan produksi semakin naik berpengaruh pada harga," ujarnya.  Selama ini pengembangan rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) masih mengalami sejumlah hambatan. Ada tiga kendala yang dihadapi pengembang rumah MBR di Gresik. 

“Masalah keterbatasan lahan, regulasi daerah dan pembiyaan mencari pokok kendala yang dihadapi pengembang saat ini. Di Gresik sangat sulit untuk mendapatkan lahan untuk membangun MBR di wilayah kota,” imbuhnya.

Selanjutnya, kendala regulasi daerah. Pemerintah daerah masih belum mengimplementasikan setiap kebijakan pemerintah pusat secara optimal. Di samping kendala lain yakni masalah pembiayaan subsidi selisih bunga (SSB) yang diberikan pemerintah terus dikurangi. “Soal regulasi pemerintah pusat sudah banyak melakukan percepatan. Namun daerah belum terimplemtasi secara optimal,” katanya.

Ketua Asosiasi Pengembang Perumahan Seluruh Indonesia (Apersi) Gresik, Koko Wijayanto mengungkapkan kenaikan harga sejak lama diinginkan pengembang mengingat ada inflasi kenaikan harga tanah dan bahan material yang terus naik.

"Sebelumnya telah dipertimbangkan dari segi kemampuan masyarakat untuk membeli rumah MBR dari upah gaji mereka, jadi tidak sembarangan langsung minta dinaikkan tanpa bahan pertimbangan," ujarnya.

Bisnis properti tahun 2019 diprediksi akan lebih baik dari tahun 2018 yang dominan masih lesu. Khususnya yang bergerak di segmen MBR tetap optimis ada pertumbuhan sekalipun ada momen politik di tahun ini.

"Berdasarkan pengalaman yang sebelumnya untuk segmen MBR tidak berdampak. Kami tambah optimistis bisa tumbuh karena 80 persen anggota kami itu di segmen MBR," jelasnya. (fir/han)

(sb/fir/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia