Minggu, 08 Dec 2019
radarsurabaya
icon featured
Iso Ae

Suami Punya Gangguan Bipolar, Sebentar Sayang, Sebentar Ngamukan

29 Juni 2019, 01: 19: 16 WIB | editor : Wijayanto

Ilustrasi Iso Ae

Ilustrasi Iso Ae (GRAFIS: FAJAR KRISNA)

Share this      

Siapa yang tenang kalau punya pasangan macam musim pancaroba. Sebentar panas terik, tak lama kemudian hujan deras. Sebentar manja-manja, satu jam kemudian menyiksa.

Ismaul Choiriyah-Wartawan Radar Surabaya

Tinggal dengan orang yang mood-nya macam musim pancaroba ini juga dialami oleh Karin, 28. Menjadi istri Donwori selama lima tahun, selama itu pula ia tersiksa. Hal ini tak lain karena Donwori punya gangguan mental bipolar. Yang sebentar bahagia sebentar stres. 

Menurut Karin, sudah lama suaminya menderita penyakit ini. Hanya saja tidak ketahuan sejak keduanya pacaran dulu. Maklum, ketemunya kan hanya beberapa jam saja. Itu pun dalam kondisi terbaik. Misal gak baik, ya dimanis-maniskan agar kekasih nyaman.

Eh lha dalah, pas menikah baru ketahuan aslinya. Karin sendiri menyebut Donwori sebagai drama king. Dikit-dikit drama, sedikit-sedikit seperti sinetron. "Barang lali lek ndeleh, takon aku. Aku yo ra ngerti lah. Muring-muring, jarene aku bojo sing ra berguna,"  cerita Karin, di  pelataran kantor pengacara dekat Pengadilan Agama(PA) Klas 1A Kota Surabaya yang panas itu, pertengahan pekan lalu. 

Kalau sudah muncul kata-kata itu, biasanya Donwori mulai merusak barang-barang yang ada di depannya. Kalau tidak ada, ya tubuh Karin yang jadi sasarannya. 

Namun setelah segala drama itu, biasanya, satu atau dua jam lemudian, Donwori pun menangis tersedu-sedu di hadapan Karin. Meminta maaf karena telah berbuat kasar. Tapi, jangan dikira Donwori tipikal suami gentle yang mau minta maaf duluan. 

Karena setelah minta maaf ini, sikap Donwori berubah lagi. Ia berubah murung dan mengutuk diri sendiri. Menyalahkan nasib, menyalahkan  Karin yang mau menikahi, menyalahkan orang tua yang telah melahirkan. Pokoknya  drama. 

Kadang kala Donwori ini ada-ada saja. Pernah dia murung, baper luar biasa karena sapaannya kepada tetangga tak ditanggapi. Ia pun langsung metani kemungkinan kesalahannya lagi. Eh lha dalah, sejurus  kemudian dia tertawa terbahak-bahak. Menertawakan kesedihan tak perlunya tadi. "Rodo stres ancene, Mbak," lanjutnya. 

Kalau sudah seperti ini, yang bisa Karin lakukan hanya ngedem atine Donwori. Hanya itu yang bisa dia perbuat. Selain itu, dia bingung mau bagaimana lagi. 

Kalau kata Karin, perceraiannya ini bukan keputusan grusa-grusu. Lima tahun bukanlah waktu yang sedikit untuk ngempet hidup bersama laki-laki seperti Donwori. Ia takut, jika diterus-teruskan bersama, dia dan anaknya bisa kena gangguan mental juga karena bapaknya. Makanya  mending diakhiri saja. "Bismillah iso lah, Mbak mendidik anak satu ini jadi orang," pungkas warga Sidosermo ini. (*/opi)

(sb/is/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia